Pahami.id – Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno menegaskan Komite Nasional dalam struktur Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Gaza akan diisi oleh para ahli atau teknokrat Palestina.
Ini merupakan kesepakatan penting untuk memastikan bahwa lembaga pelaksana bekerja secara profesional tanpa campur tangan politik.
“BoP nanti ada badan eksekutif, ada komite nasional yang diisi teknokrat Palestina. Mereka adalah kekuatan khusus yang tidak terafiliasi dengan afiliasi politik tertentu,” kata Arif Havas di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/2) sore.
Arif menjelaskan, panitia nasional bertugas melaksanakan seluruh program dan kegiatan yang telah disusun BoP di lapangan. Penegasan tersebut disampaikan usai Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan beberapa pakar hubungan internasional di Istana.
Kerjasama antar negara-negara Muslim: Keanggotaan Indonesia dalam BoP merupakan hasil kesepakatan bersama dengan negara-negara mayoritas Muslim lainnya, seperti Turki, Pakistan, dan negara-negara di kawasan Timur Tengah.
“Ini merupakan kerja sama untuk membahas permasalahan Palestina secara konkrit,” lanjut Arif.
Indonesia sendiri resmi bergabung setelah Presiden Prabowo menandatangani piagam pendirian BoP di Davos, Swiss, pada 22 Januari 2026. Indonesia bergabung dengan negara lain seperti Arab Saudi, Mesir, Qatar, dan Uni Emirat Arab dalam lembaga ini.
Soal Biaya Keanggotaan Terkait persoalan biaya yang diprakarsai Amerika Serikat, Wakil Menteri Luar Negeri menyatakan pemerintah masih dalam tahap konsultasi. Indonesia dan negara-negara Muslim lainnya sedang merumuskan mekanisme dan rincian pembayaran.
Hingga saat ini, besaran iuran dan mekanisme penggunaan dana tersebut belum diputuskan karena proses koordinasinya masih panjang.
“Soal (kontribusi) belum ada pembahasannya. Yang penting sekarang detail perjanjiannya, harus dibuat rambu-rambunya dan disesuaikan posisinya antar negara yang menyepakati. Bagaimana mekanismenya, itu yang terpenting,” pungkas Wamenlu. (Di antara)

