Jakarta, Pahami.id —
Seorang polisi Iran dikabarkan tewas akibat luka tusuk saat terjadi kerusuhan di sekitar ibu kota Teheran, Kamis (7/1).
Kerusuhan tersebut dipicu oleh aksi protes menyusul krisis ekonomi yang belum mereda sejak akhir Desember lalu dan memasuki hari ke-12.
Luncurkan situsnya AFPPolisi yang tewas itu diidentifikasi sebagai Shahin Dehghan, anggota kepolisian wilayah Malard, sebelah barat Teheran.
“(Dehghan) meninggal beberapa jam yang lalu setelah ditikam ketika mencoba mengendalikan kerusuhan,” kantor berita Fars melaporkan.
Mereka juga menambahkan, upaya mengidentifikasi pelaku masih terus dilakukan.
Kerusuhan pecah pada tanggal 28 Desember setelah para pedagang di Teheran melakukan protes terhadap kenaikan harga dan devaluasi mata uang rial.
Pada Kamis, nilai tukar dolar AS tercatat di atas 1,4 juta real (sekitar Rp 555 ribu), sedangkan euro menembus 1,7 juta real (sekitar Rp 680 ribu).
Menurut perhitungan AFP berdasarkan pernyataan resmi dan laporan media lokal, demonstrasi menyebar ke 25 dari 31 provinsi Iran. Pertempuran tersebut telah menewaskan puluhan orang, termasuk anggota pasukan keamanan.
Langkah tersebut menandai gelombang protes terbesar di Iran sejak demonstrasi 2022-2023 yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini dalam tahanan setelah ditangkap karena diduga melanggar aturan berpakaian perempuan.
Namun, serangkaian demonstrasi tetap menjadi ujian baru bagi para pemimpin Iran di tengah krisis ekonomi dan konflik dengan Israel tahun lalu.
Pemerintah Iran mengakui tuntutan ekonomi para pengunjuk rasa, namun memperingatkan terhadap “pergolakan.”
Mereka juga menjanjikan “respon tegas” terhadap setiap upaya yang menciptakan ketidakstabilan.
Media lokal juga melaporkan beberapa penangkapan terhadap “perusuh” sejak protes dimulai.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk “pernyataan yang mengganggu dan menyesatkan dari pejabat AS mengenai perkembangan internal Iran”.
Pernyataan itu, tanpa menyebut nama pejabat AS secara spesifik, muncul setelah Senator AS Lindsey Graham mengatakan kepada Fox News.
“Kepada rakyat Iran: Kami mendukung Anda malam ini,” katanya.
Graham juga memperingatkan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bahwa Presiden AS Donald Trump akan membunuhnya “jika dia terus membunuh rakyatnya yang menuntut kehidupan yang lebih baik”.
Trump memperingatkan bahwa Teheran akan “menghadapi pukulan berat” jika lebih banyak pengunjuk rasa terbunuh.
Kementerian luar negeri Iran mengatakan sikap AS tersebut bukan merupakan kepedulian terhadap rakyat Iran, namun “sejalan dengan kebijakan tekanan, ancaman dan campur tangan terhadap urusan dalam negeri Iran”.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa sanksi AS merupakan “bagian besar” dari masalah ekonomi Iran.
(rnp/bac)

