6 Penyebab Perang Baratayuda Pada Kisah Mahabharata – Sejarah Agama

by

Baratayuda merupakan puncak cerita Mahabharata dari India tentang persaingan dua suku yang masih bersaudara, Pandawa dan Kurawa. Mahabharata adalah karya sastra kuno yang ditulis oleh Begawan Vyasa atau dikenal juga dengan Vyasa dari India, dan terdiri dari delapan belas kitab. Beberapa juga percaya bahwa Mahabharata sebenarnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang terpisah dan telah dikumpulkan sejak abad ke-4 SM. Kisah Mahabharata menceritakan tentang konflik antara Pandawa Lima dengan sepupunya Kurawa yang berjumlah seratusan, memperebutkan tahta Astinapura.

Kedua kubu merasa berhak menguasai Astinapura. Konflik antara dua kelompok bersaudara sebagai bagian dari sejarah perang Baratayudha sudah berlangsung sejak mereka lahir. Cerita ini bahkan diadaptasi ke dalam berbagai bahasa, termasuk cerita pewayangan versi Jawa karya Mpu Sedah tahun 1157 atas perintah Jayabaya yang tercatat dalam silsilah kerajaan Kediri sebagai salah satu Raja Kediri. Istilah Baratayuda diambil dari judul naskah ini dan merupakan bagian dari sejarah kerajaan Kediri yaitu Bharatayuddha dalam bahasa Jawa Kuna. Dalam versi Jawa, cerita perang ini mengalami beberapa kali perubahan yang disesuaikan dengan latar yang lebih sesuai dengan latar Jawa sehingga dianggap terjadi di pulau Jawa.

Penyebab Perang Baratayuda

Untuk mengetahui dan memahami penyebab perang Baratayuda, kita perlu menelusuri sejarah asal usul kelompok Pandawa dan Korawa terlebih dahulu. Karena banyaknya tokoh dan faktor yang terlibat, penyebab perang Baratayuda tidak dapat dijelaskan dalam satu kalimat sederhana. Asal muasal masalah yang menjadi akar dan penyebab terjadinya perang ini antara lain :

1. Kebutuhan Satyawati

Kita harus melihat awal kisah Raja Sentanu yang ingin memperistri Satyawati, istri keduanya yang menetapkan syarat bagi keturunannya untuk menduduki tahta Astinapura. Sentanu tidak bisa memenuhinya karena sudah memiliki Bisma, anaknya dengan Dewi Gangga. Bhisma kemudian berjanji kepada Satyawati bahwa ia tidak akan merebut tahta dan tidak akan menikah selamanya selama Satyawati mau menikah dengan ayahnya. Maka dari Sentanu dan Satyawati lahirlah dua putra, Citranggada yang menggantikan Sentanu sebagai Raja Kuru dan adiknya Wicitrawirya.

Citranggada tewas dalam pertempuran dengan raja Gendarwa yang licik bernama sama, yang menantangnya karena tidak ingin ditandingi oleh raja lain bernama sama. Wicitrawirya kemudian menggantikan saudaranya sebagai Raja Kuru karena Citranggada tidak memiliki istri maupun anak. Wicitrawirya kemudian menikah dengan Ambika dan Ambalika dan meninggal dalam usia muda akibat penyakit paru-paru tanpa dikaruniai anak. Kedua janda tersebut kemudian memiliki anak dalam suatu upacara dengan Resi Byasa, yaitu Dretarastra anak Ambika dan Pandu anak Ambalika.

2. Balas dendam Gendari

Cerita berawal dari Pandu yang membawa tiga orang wanita ke Astinapura yaitu Kunti, Gendari dan Madrim. Pandu kemudian meminta saudaranya yang buta Dhritarashtra untuk memilih salah satu wanita. Dhritarastra memilih dengan mempertimbangkan bobot ketiganya, kemudian ia memilih Gendari karena memiliki bobot yang paling berat. Menurutnya, wanita yang memiliki bobot tubuh yang berat akan dengan mudah melahirkan anak sebanyak yang diinginkannya. Hal ini menyebabkan Gendari disakiti oleh Pandu dan bersumpah bahwa keturunannya akan menjadi musuh bagi anak-anak Pandu di kemudian hari.

3. Konflik Anak

Lima putra Pandu dari Kunti dan Madri disebut Pandawa, dan putra Dretarastra dan Gendari yang berjumlah seratus tepatnya 99 putra dan 1 putri disebut Kurawa. Persaingan sudah berlangsung sejak mereka masih anak-anak. Semuanya hidup bersama dalam satu kerajaan di Astinapura. Konflik bermula ketika Duryudana, putra tertua Korawa, menginginkan tahta dinasti Kuru untuk dirinya sendiri dan merasa tidak mungkin mendapatkannya jika masih ada anak Pandawa. Sejak saat itu muncul berbagai niat jahat dalam diri Duryudana untuk menyingkirkan Pandawa dan ibu mereka, yang dilakukannya dengan Sangkuni, adik Gendari.

4. Percobaan Pembunuhan Pandawa

Duryudana dan pamannya berusaha menyingkirkan Raja Yudhishthira yang sah dan semua Pandawa lainnya dengan berbagai cara, termasuk percobaan pembunuhan. Duryodhana membuat peralatan pesta yang mudah terbakar dan mengundang Pandawa dan Kunti ke pesta itu. Disana mereka akan diminta untuk meminum minuman yang telah dicampur dengan obat tidur. Meskipun demikian, Pandawa dilindungi oleh paman mereka Widura dan Kresna, sepupu mereka, sehingga mereka selalu aman dari upaya pembunuhan. Vidura membocorkan rencana Duryodhana. Pandawa dan ibu mereka kemudian melarikan diri ke hutan dan mengembara.

5. Dimana Dropadi dan Yudistira Salah

Kedatangan Drupadi turut andil dalam perang Baratayuda. Saat dalam pelarian, Pandawa mendengar bahwa akan diadakan sayembara di Kerajaan Panchala, dan siapa pun yang menang akan menikahi putri Raja Panchala, Draupadi. Lomba berupa pertandingan panahan diikuti oleh Arjuna yang kemudian menjadi juara. Ketika Arjuna dan Bhima membawa Draupadi pulang, mereka berkata bahwa mereka telah mendapatkan hadiah terbaik. Kunti yang tidak tahu apa yang harus dibawa pulang, menyuruh mereka berbagi sama rata agar Drupadi menjadi istri Pandawa Lima.

Setelah menikah dengan Dropadi, Pandawa kembali ke kerajaan. Untuk menghindari pertempuran lebih lanjut, kerajaan Kuru dibagi menjadi dua. Korawa mendapatkan kerajaan utamanya di Astinapura sedangkan Pandawa mendapatkan Kurujanggala yang beribukota di Indraprastha. Duryudana yang mengunjungi istana Indraprastha yang megah, jatuh ke dalam kolam yang menurutnya adalah lantai, dan ditertawakan oleh Drupadi.

Duryudana yang dendam kepada Dropadi mencoba membalas dengan mengajak Yudhishthira yang sangat gemar bermain dadu. Dia mengarang rencana licik hingga Yudhishthira dikalahkan dengan berbagai pertaruhan, mulai dari hal kecil hingga menyebabkan Pandawa kehilangan kekayaan dan kerajaannya. Akhirnya Drupadi pun jadi taruhan. Kekalahan Pandawa membuat Duryudana bebas mempermalukan Dropadi dengan mencoba menelanjanginya di depan umum. Namun berkat pertolongan Kresna, selalu ada lapisan pakaian di bawah pakaian Draupadi yang dilepas oleh Dursasana, adik perempuan Duryudana. Bhima yang marah bersumpah untuk membunuh Dursasana dan meminum darahnya.

6. Pengusiran Pandawa

Setelah semua upaya gagal, Korawa mencoba mengelabui Pandawa dengan bermain dadu lagi. Syaratnya, siapa pun yang kalah harus meninggalkan istana selama 13 tahun. Yudistira tertipu lagi. Kelicikan permainan menyebabkan Pandawa kalah sehingga harus meninggalkan istana menuju hutan. Dhritarastra berjanji bahwa dia akan menyerahkan tahta kepada Yudhishthira setelah dia kembali. Namun setelah masa pengasingan berakhir, Duryodhana tidak mau menyerahkan tahtanya.

Maka Pandawa yang masih sabar, hanya meminta bagian lima desa, tetapi Duryudana menolak mentah-mentah. Tingkah laku Duryudana akhirnya membuat para Pandawa tidak bisa menahan diri untuk berperang dan menjadi penyebab perang Baratayuda. Perang yang terjadi di Padang Kurusetra sangat hebat dan luar biasa juga menimbulkan banyak korban jiwa. Penyebab perang Baratayuda berakhir dengan sepuluh ksatria masih hidup, yaitu Pandawa lima, Yuyutsu, Satyaki, Aswatama, Krepa dan Kertawarma. Yudhishthira akhirnya dinobatkan menjadi Raja Kuru, dan setelah beberapa waktu menyerahkan tahtanya kepada Parikesit, cucu Arjuna.

Kelima Pandawa dan Drupadi kemudian mendaki pegunungan Himalaya menjadi tujuan akhir perjalanan hidup mereka. Empat Pandawa dan Drupadi meninggal dalam perjalanan, hanya Yudhishthira yang berhasil mencapai puncak Himalaya dan diizinkan oleh dewa Dharma untuk masuk surga sebagai manusia. Cerita Mahabharata memiliki unsur agama Hindu, seperti sejarah candi Arjuna, sejarah candi Dieng, dan beberapa candi Hindu yang ada di Indonesia serta candi peninggalan Hindu yang juga ada di negara kita.