Jakarta, Pahami.id –
Presiden Korea Selatan itu ditantang Yoon Suk Yeol Tidak akan menghadiri pengabdian oleh Pengadilan Konstitusi (MK) besok, Jumat (4/4). Tim hukum Yoon mengkonfirmasi ketidakhadirannya pada hari Kamis (3/4).
Kantor berita Yonhap Melaporkan Mahkamah Konstitusi akan mengajukan keputusan pemakzulan Yoon besok pukul 11.00 waktu setempat atau 09.00 WIB.
Demi keamanan, polisi Korea Selatan telah mengerahkan 14.000 anggota yang terkait dengan keputusan Yoon.
Sumber yang tahu masalahnya mengatakan bahwa polisi saat ini berada dalam status “Gapho” atau tingkat peringatan tertinggi di polisi.
Polisi juga akan meningkatkan keamanan untuk semua hakim pengadilan konstitusional Korea Selatan.
Selain itu, polisi memisahkan pengunjuk rasa yang menelepon atau menentang pemakzulan Yoon di sepanjang jalan.
Menjelang sidang keputusan, beberapa kedutaan negara di Seoul, Korea Selatan telah meminta rakyatnya untuk menghindari publik atau demonstrasi sebelum membaca dampak dampak dampaknya.
“Hindari area di mana demonstrasi berjalan, dan berhati -hatilah di sekitar publik, asosiasi, protes, atau pertemuan publik,” tulis kedutaan AS di Korea Selatan melalui akun X -nya, dikutip dari kantor berita Yonhap.
Banding serupa juga disajikan oleh Kedutaan Besar Jepang di Seoul yang meminta orang -orangnya untuk menyadari situasi saat membaca keputusan untuk memastikan keselamatan mereka.
Sementara itu, kedutaan Cina meminta warganya untuk tetap berhati -hati dan menjaga keselamatan mereka.
Yoon Suk Yeol dinyatakan oleh DPR pada bulan Desember 2024 setelah menetapkan status darurat Korea Selatan.
Pada waktu itu, Yoon juga mengirim pasukan ke rapat umum nasional untuk mencegah parlemen memasuki gedung dan membatalkan deklarasi darurat militer.
DPR mempertimbangkan tindakan Yoon dalam kategori pengkhianatan nasional. Setelah dihapus di parlemen, status diluncurkan di Pengadilan Konstitusi.
Jika Mahkamah Konstitusi memimpin pemakzulan Yoon, Korea Selatan harus mengadakan pemilihan dalam waktu 60 hari. Namun, jika pemakzulan dibatalkan, ia dapat kembali ke kursi presiden.
(Isa/Chri)