Jakarta, Pahami.id —
Presiden Kolumbia Gustavo Petro Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump masuk radar sebagai target berikutnya setelah Trump menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1).
Trump menyebut nama Petro dalam sambutannya setelah dia menangkap Maduro atas tuduhan terorisme narkotika. Trump mengatakan Kolombia, dengan Petro sebagai presidennya, akan mengalami nasib yang sama seperti Venezuela dan Maduro karena produksi kokain di negara tersebut.
“Operasi Kolombia kedengarannya menarik,” kata Trump saat berada di pesawat kepresidenan Air Force One, Minggu (4/1), seperti dikutip Reuters.
Pernyataan tersebut ditanggapi Petro dengan menginformasikan kepada militer Kolombia. Dalam postingannya di X, ia memerintahkan seluruh aparat keamanan bersatu membela negara.
“Setiap prajurit Kolombia kini mendapat perintah: setiap komandan pasukan keamanan yang lebih memilih bendera AS daripada Kolombia harus segera mengundurkan diri dari lembaga tersebut. Konstitusi Kolombia memerintahkan aparat keamanan untuk mempertahankan kedaulatan rakyat,” demikian pernyataan Petro di X, Senin (5/1).
Profil Gustavo Petro
Gustavo Petro merupakan Presiden Kolombia yang menjabat sejak tahun 2022. Ia merupakan sosok sayap kiri yang menciptakan sejarah Kolombia karena negaranya selalu dipimpin oleh sayap kanan.
Petro memenangkan pemilihan umum Kolombia karena ia berjanji untuk memberantas kekerasan, kemiskinan dan pelanggaran hak asasi manusia.
Sebelum mencalonkan diri sebagai presiden, Petro dikenal sebagai walikota Bogota yang menginisiasi serangkaian program sosial termasuk subsidi tarif air dan tarif bus bagi warga kurang mampu. Jabatan tersebut dijabatnya pada tahun 2012 hingga 2015.
Di usianya yang masih belia, Petro pernah menjadi anggota kelompok pemberontak. Ia bergabung dengan kelompok gerilya Gerakan 19 April (gerakan gerilya M-19) saat ia berusia 17 tahun.
Kelompok-kelompok ini kerap melakukan tindakan “berani” seperti penculikan dan pembunuhan. Mereka juga menggerebek gudang senjata Bogota pada tahun 1979 dan melakukan penculikan di Kedutaan Besar Republik Dominika pada tahun 1980.
Meski tidak terkait dengan aksi terorisme tersebut, Petro diyakini berperan dalam menciptakan propaganda tersebut. Dia ditangkap dan dipenjara karena kepemilikan senjata api dan bahan peledak rakitan.
Setelah dibebaskan dari tahanan pada tahun 1987, Petro membantu mendorong pembicaraan damai antara M-19 dan pemerintah Kolombia. Pada tahun 1990, kelompok gerilya berubah menjadi partai politik sah bernama Alianza Democrata M-19.
Setelah menjadi presiden, Petro menjadi pemimpin yang vokal mengkritik kebijakan Amerika Serikat. Ia menentang kebijakan anti-imigran Trump, salah satunya adalah desakannya mendeportasi warga Kolombia dari AS.
Petro juga sangat menentang Israel setelah negara itu menginvasi Palestina. Pada tahun 2024, Petro memutuskan hubungan diplomatik Kolombia dengan Israel karena menganggap Israel telah melakukan genosida di Jalur Gaza.
Pada September 2025, Petro menarik perhatian karena gigih membela Palestina di Majelis Umum PBB. Dia menyerukan diakhirinya pembantaian Israel di Gaza dan penyelidikan terhadap Trump atas serangan kapal di perairan Karibia.
(rnp/rds)

