Jakarta, Pahami.id —
Presiden Iran Mahmoud Pezeshkian menyatakan siap kembali melakukan perundingan dengan pemerintah Amerika Serikat mengenai program nuklir demi kepentingan nasional, setelah berulang kali mendapat ancaman dari Presiden. Donald Trump.
Namun Pezeshkian mengajukan syarat negosiasi harus dilakukan tanpa ancaman.
“Saya telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri saya, dengan memperhatikan kondisi lingkungan yang sesuai, bebas dari ancaman dan ekspektasi yang tidak masuk akal, untuk melakukan perundingan yang adil dan merata,” kata Pezeshkian pada Selasa (3/2), dikutip. AFP.
Ia kemudian berkata, “Negosiasi akan dilakukan dalam kerangka kepentingan negara kita.”
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mengatakan kesepakatan nuklir dengan AS dapat dicapai.
“Jadi saya melihat kemungkinan adanya pembicaraan lain jika tim perunding AS mengikuti apa yang dikatakan Presiden Trump: mencapai kesepakatan yang adil dan merata untuk memastikan tidak ada senjata nuklir,” kata Araghchi.
“Jadi kalau itu terjadi, saya yakin kita bisa mencapai kesepakatan,” imbuhnya.
Pernyataan Pezeshkian muncul setelah Trump mengatakan AS sangat berharap bisa mencapai kesepakatan dengan Iran terkait program nuklirnya.
Jika tidak, hal buruk akan terjadi, kata Trump.
AS dan sekutunya Israel memandang program nuklir Iran berbahaya karena berpotensi memproduksi senjata. Namun, pemerintah yang berbasis di Teheran telah berulang kali menekankan bahwa programnya ditujukan untuk perdamaian.
Washington juga meminta Teheran mengurangi produksi rudalnya.
Ultimatum Trump kepada Iran sejalan dengan penempatan kapal induk dan kapal perang AS di perairan Timur Tengah. Ketegangan AS-Iran meningkat tajam selama beberapa minggu terakhir sejak demonstrasi massal pada Desember lalu.
Jika Iran tidak menyetujui perundingan, AS akan membuat negaranya lebih buruk dibandingkan Venezuela. AS melancarkan invasi ke Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro dan ibu negaranya.
(isa/dna/bac)

