Jakarta, Pahami.id —
pengungsi banjir di Kelurahan Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur (Jaktim) mengeluh nyeri ringan akibatnya banjir yang membanjiri pemukiman warga mulai dari batuk, pilek, hingga gatal-gatal.
“Sejauh ini ada 18 orang yang sakit, sebagian besar mengeluh batuk, pilek, dan gatal-gatal,” kata Suhartono, Kecamatan Bidara Cina di Jakarta Timur, Jumat (30/1), dikutip dari di antara.
Suhartono mengatakan, kondisi kesehatan warga korban banjir di Desa Bidara Cina semakin memprihatinkan.
Banjir yang terjadi berdampak pada beberapa wilayah, dengan RW 11 dan RW 7 menjadi wilayah yang terkena dampak paling parah. Sementara RW 5 dan RW 6 juga mengalami banjir dengan intensitas lebih ringan.
“Wilayah yang terkena dampak paling parah adalah RW 11 dan RW 7, sedangkan RW 5 dan RW 6 terdampak namun tidak terlalu parah,” jelas Suhartono.
Akibat banjir tersebut, sebanyak 83 Kepala Keluarga (KK) dengan total 284 jiwa harus mengungsi. Para pengungsi disebar di beberapa lokasi pengungsian antara lain di Kantor Kampung Bidara Cina, SDN 05 Bidara Cina, Gedung SKKT, Kampung Bidara Cina, Masjid Al Abror RW 11 Jami, dan GOR Otista.
Seiring bertambahnya jumlah pengungsi, keluhan kesehatan pun mulai bermunculan.
“Ada tiga petugas Puskesmas Bidara China yang memberikan pelayanan kesehatan sejak pagi,” kata Suhartono.
Kemunculan penyakit ini dipicu oleh paparan air banjir, kondisi cuaca lembab, dan terbatasnya fasilitas sanitasi di awal masa evakuasi.
Untuk mencegah keadaan semakin parah, petugas Puskesmas melakukan pemeriksaan kesehatan, memberikan obat-obatan dan mengedukasi warga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan pengungsi.
Selain layanan kesehatan, bantuan dari pemerintah setempat juga telah disalurkan. Bantuan datang dari Pemerintah Kota Jakarta Timur dan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, termasuk dukungan logistik dan kebutuhan pangan bagi para pengungsi.
“Makanan sudah disiapkan dan akan dibagikan pada siang dan malam hari,” kata Suhartono.
Hingga saat ini, petugas gabungan masih bersiaga di seluruh titik pengungsian untuk memantau kondisi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia yang berisiko mengalami gangguan kesehatan yang lebih serius.
Sebelumnya, BPBD Jakarta Timur mencatat luapan Sungai Ciliwung menyebabkan banjir hingga merendam pemukiman warga di Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, sejak Kamis (29/1) hingga Jumat (30/1) pagi. Banjir berdampak pada dua RW dengan ratusan warga terdampak.
Banjir terjadi di Jalan Baiduri Bulan RW 03 RT 12 dan RW 11 RT 06 dan RT 12. Akibat kejadian ini, total 55 KK atau sekitar 185 jiwa terdampak.
“Di RW 03 RT 12 ada 25 KK dengan 75 jiwa terdampak. Sedangkan di RW 11 RT 06 dan RT 12 ada 30 KK dengan total 110 jiwa,” kata Satgas Koordinasi BPBD Wilayah Jakarta Timur Ali Kojim saat dikonfirmasi terpisah di Jakarta.
Menurut Ali, banjir disebabkan meluapnya Sungai Ciliwung yang dipicu tingginya debit air. Ketinggian air mulai terpantau sejak Rabu (28/1) siang dan terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada Jumat dini hari.
Pada Kamis (29/1) dini hari, ketinggian air kembali naik hingga 100 cm pada pukul 00.00 WIB dan terus naik hingga 110 cm hingga siang hari.
Meski sore hari berangsur surut hingga sekitar 60 cm, namun ketinggian air kembali berfluktuasi hingga malam hari.
Situasi memburuk pada Jumat (30/1) dini hari. BPBD mencatat ketinggian air kembali naik signifikan dari 60 cm pada pukul 01.00 WIB menjadi 130 cm pada pukul 03.00 WIB, kemudian pada pukul 05.00 hingga 06.00 WIB ketinggian air mencapai 170 cm.
(fra/antara/fra)

