Jakarta, Pahami.id —
Amerika Serikat disebut-sebut sedang berusaha membujuk Arab Saudi untuk mendukung rencana Presiden Donald Trump melancarkan serangan terhadap Iran.
Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman dilaporkan berada di Washington untuk bertemu dengan beberapa pejabat AS guna membahas masalah Iran. Khalid bin Salman merupakan adik dari Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman yang merupakan pemimpin secara de facto Saudi.
Pangeran Khalid secara luas dipahami sebagai penasihat terdekat Mohammed bin Salman.
Dikutip ReutersKepala intelijen militer Israel, Jenderal Shlomi Binder, juga dilaporkan mengadakan beberapa pertemuan terpisah dengan pejabat senior di Pentagon, CIA, dan Gedung Putih pada Selasa (27/1) dan Rabu (28/1) untuk membahas masalah Iran.
Pertemuan pejabat Saudi dan Israel ini terjadi ketika ada laporan dari Mata Timur Tengah (MEE) menyoroti upaya AS untuk membujuk Riyadh agar mendukung serangan terhadap Iran.
Seorang pejabat AS yang akrab dengan topik diskusi kunjungan Pangeran Khalid, serta dua pejabat Arab yang akrab dengan dinamika diplomatik, mengatakan AS dan mitra-mitranya di Teluk tampaknya berbicara satu sama lain tanpa kesamaan mengenai ambisi Trump terhadap Iran.
Pemerintahan Trump menekan Riyadh untuk mendukung serangan tersebut, sementara Arab Saudi, bersama dengan Oman, Qatar dan Türkiye, menolak dan mendorong negosiasi lebih lanjut.
aksio pertama kali melaporkan rencana kunjungan Pangeran Khalid ke Washington, bersamaan dengan kunjungan kepala intelijen militer Israel.
Sementara itu, para pejabat AS yang mengetahui agenda pembicaraan mengenai kunjungan Pangeran Khalid mengatakan bahwa diskusi pemerintahan Trump akan mencakup bagaimana serangan militer dapat mengurangi ancaman Iran terhadap mitra regionalnya melalui kelompok proksi dan senjata rudal balistik.
AS juga akan meyakinkan Riyadh akan komitmennya terhadap pertahanan dan keamanan jangka panjang Saudi.
Dua pejabat Arab menceritakan MEE bahwa ada harapan bahwa AS akan menawarkan sejumlah “janji” kepada Arab Saudi, meskipun mereka tidak mengatakan apa yang bisa ditawarkan Trump untuk mendapatkan dukungan Riyadh atas serangan tersebut.
Namun, seorang pejabat Arab mengatakan Arab Saudi mungkin yakin untuk diam-diam menyetujui serangan AS. Sebab, pejabat lain menyebut Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah menekankan bahwa Riyadh sepenuhnya menentang tindakan militer.
Tidak jelas apakah Trump sedang mencari komitmen publik dari negara-negara Teluk. Namun, jika demikian, hal ini akan bertentangan dengan pernyataan para pemimpin Arab sebelumnya.
Selain itu, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga secara terbuka menyatakan tidak akan membiarkan wilayah udara atau wilayahnya digunakan untuk menyerang Iran.
Amerika telah mengindikasikan akan melancarkan serangan militer terhadap Iran jika Teheran tidak segera melanjutkan perundingan mengenai program nuklirnya.
AS mulai menargetkan Iran setelah demonstrasi berdarah terjadi di negara tersebut menyusul krisis ekonomi.
Awalnya AS menggunakan kematian pengunjuk rasa sebagai alasan untuk menyerang Iran, namun kini Washington telah mengubah alasan tersebut menjadi program nuklir Teheran.
Sejak awal pekan ini, kapal perang AS telah mengepung Iran. Iran menyatakan siap berperang habis-habisan jika diserang.
Menurut laporan aksioAS dan Israel telah berbagi informasi intelijen mengenai target yang ingin mereka serang di Iran.
Laporan CNN Trump baru-baru ini mengatakan dia sedang mempertimbangkan sejumlah opsi, termasuk menyerang pemimpin Iran.
Mengantisipasi serangan AS, Iran menelepon negara tetangganya dan mendesak mereka untuk tidak memfasilitasi serangan Washington. Arab Saudi dan negara-negara Teluk berjanji tidak akan membiarkan wilayah mereka digunakan untuk menyerang Iran.
(blq/rds)

