Jakarta, Pahami.id –
Massa tindakan yang menolak ulasan Hukum Saling membantu menyediakan makanan dan minuman jika demonstrasi di gedung MPR/DPR, Kamis malam (3/20).
Pemantauan Cnnindonesia.com Di situs, beberapa orang membeli makanan dan minuman di banyak bagian yang akan diambil oleh peserta lain.
Salah satu pedagang pelayan di lokasi yang diklaim telah menerima pembayaran untuk 100 porsi. Ratusan bagian diberikan secara gratis kepada peserta tindakan.
Tidak hanya itu, ada juga banyak tindakan untuk membeli minuman untuk demonstrasi lainnya.
“Mereka yang belum minum, minum, gratis untuk dua puluh minuman,” katanya, berteriak.
Momen ini terjadi setelah panggilan malam untuk berdoa atau spidol saat berbuka puasa. Misa aksi masih bertahan di depan gedung Parlemen.
Sebelumnya, orang -orang yang memegang tindakan menolak ratifikasi undang -undang akan mengetuk pagar bangunan MPR/DPR/DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (3/20).
Beberapa orang yang berada dalam massa aksi awalnya menempatkan tali ke pilar kompleks parlemen.
Orang -orang bergiliran -mereka menarik tali. Perlahan pagar dilepaskan dari tiang. Publik juga berhasil mengetuk pagar di sisi lain.
Amandemen terhadap Nomor Legal 34 pada tahun 2004 atau Bill of Harvesting Controversy. RUU tersebut menerima penolakan kuat dari publik karena dianggap menghidupkan kembali wacana laten dari wacana laten yang dirilis setelah pembaruan tahun 1998.
Siswa, organisasi masyarakat sipil untuk akademisi sibuk menolak tinjauan hukum yang sedang dibahas di DPR, dan perencanaan untuk disetujui sebagai undang -undang pada pertemuan pleno pada hari Kamis (3/20) hari ini.
Diskusi tentang Bill of TNI dianggap transparan dan terburu -buru. Selain itu, warga menganggap RUU TNI sebagai pintu masuk Dwifunction Angkatan Bersenjata.
Namun, pemerintah dan parlemen terus mendukungnya pada pertemuan pleno pagi ini.
(FRA/TFQ/FRA)