Berita Dibidik Trump, Presiden Kolombia Petro Siagakan Pasukan

by
Berita Dibidik Trump, Presiden Kolombia Petro Siagakan Pasukan


Jakarta, Pahami.id

Presiden Kolombia Gustavo Petro telah meminta tentaranya untuk bersiap setelah Amerika Serikat mengancam akan mengincarnya setelah Presiden tersebut Venezuela Nicolas Maduro.

Dalam pernyataannya mengenai X, Petro memerintahkan seluruh pasukan keamanan Kolombia untuk bersatu membela negara, dan meminta petugas yang tidak loyal untuk mengundurkan diri.


“Setiap prajurit Kolombia kini mendapat perintah: setiap komandan pasukan keamanan yang lebih memilih bendera AS daripada Kolombia harus segera mengundurkan diri dari lembaga tersebut. Konstitusi Kolombia memerintahkan aparat keamanan untuk mempertahankan kedaulatan rakyat,” demikian pernyataan Petro di X, Senin (5/1).

Petro menegaskan bahwa dia tahu tentang perang dan operasi rahasia meskipun dia bukan seorang prajurit angkatan darat. Petro menyatakan tidak akan segan-segan mengangkat senjata untuk membela rakyat dan kedaulatan Kolombia.

“Saya sudah bersumpah tidak akan menyentuh senjata lagi sejak penandatanganan Perjanjian Perdamaian 1989. Tapi demi negara saya, saya akan angkat senjata lagi,” ujarnya.

“Saya bukan pemimpin haram, bukan pula pengedar narkoba. Aset yang saya miliki hanyalah rumah keluarga yang masih dicicil menggunakan gaji saya. Data keuangan saya sudah dipublikasikan. Tidak ada bukti saya mengeluarkan uang lebih dari gaji saya. Saya bukan orang yang tamak,” sambung Petro.

Hal itu diungkapkan Petro setelah Presiden AS Donald Trump pada Minggu (4/1) mengatakan Kolombia akan mengalami nasib yang sama seperti Venezuela akibat produksi narkotika di negara tersebut.

Trump mengaku kepada wartawan bahwa Kolombia dan presidennya telah membanjiri AS dengan kokain. Ia juga mengatakan nasib Petro akan sama dengan nasib Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang kini diadili di AS.

Dalam pernyataan yang sama, Petro menegaskan bahwa dirinya bukanlah orang yang dituduhkan Trump kepadanya. Petro menegaskan dirinya tidak pernah terlibat dalam peredaran narkoba.

“Ini adalah produk kepentingan politisi Kolombia yang memiliki hubungan keluarga atau komersial dengan mafia, yang ingin memecah hubungan AS dan Kolombia sehingga perdagangan narkoba kokain meledak di dunia,” kata Petro.

Pada Sabtu (3/1), AS menyerang sejumlah wilayah di Venezuela, termasuk ibu kota Caracas, menewaskan sedikitnya 80 orang.

AS juga menahan presiden Venezuela dan istrinya, yang telah lama dituduh memimpin kartel narkoba. Maduro saat ini ditahan di New York dan dijadwalkan hadir dalam persidangan narkotika dan terorisme pada Senin (5/1) pukul 12.00 waktu setempat.

Berbagai negara di dunia mengecam serangan AS terhadap Venezuela karena dianggap melanggar hukum internasional.

(blq/baca)