Berita Simpang Siur Hamas Sandera Anak Israel, Dilepas Tapi Tanpa Orang Tua

by
Jakarta, Pahami.id

Baru-baru ini, kelompok perlawanan di Palestina Hamas menjadi fokus setelah membebaskan anak-anak tersebut Israel tanpa orang tua.

Seorang remaja berusia 13 tahun bernama Hila Rotem Shoshani melarikan diri dari Gaza tanpa ibunya, Raaya Rotem, akhir pekan lalu.


“Hila kembali tanpa ibunya dan itu jelas merupakan pelanggaran perjanjian. Kami menuntut Hamas dan mediator memastikan Raaya kembali [Ibu Hila] segera dipulangkan sesuai kesepakatan,” kata paman Shoshani, Yair Rotem, seperti dikutip dari Zaman Israel.

Yair juga mengatakan, Hila sempat memperlihatkan rambutnya yang lebih pendek karena dulu ibunya memotongnya saat dia menjadi sandera.

“Jadi, mereka bersama,” kata Hila seperti dikutip CNN.

Menanggapi pembebasan anak tanpa orang tua ini, tentara Israel buka suara.

Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Jonathan Conricus menuduh pemisahan tersebut melanggar perjanjian gencatan senjata.

Sementara Hamas menyatakan tidak mengetahui keberadaan ibu Hila, menurut Yair.

Pembebasan ini merupakan bagian dari perjanjian gencatan senjata yang dimulai pada 24 November.

Pembebasan anak tanpa orang tuanya sebagai sandera disebut melanggar perjanjian gencatan senjata karena seharusnya anak dan orang tuanya dibebaskan bersama-sama.

Dalam kesempatan terpisah, sumber diplomatik menyebutkan 40 sandera itu tidak berada di tangan Hamas.

Lalu apa fakta sebenarnya tentang para sandera di Gaza?

Sumber tersebut mengatakan, saat ini lebih dari 40 sandera yang dibawa dari Israel ke Gaza pada 7 Oktober tidak ditahan oleh Hamas.

CNN sebelumnya diberitakan bahwa sekitar 40 hingga 50 sandera ditahan oleh Jihad Islam Palestina atau kelompok atau individu lain.

Penangkapan terjadi sebelum penyerahan para sandera dimulai dan gencatan senjata dilaksanakan pada 24 November.

Pada hari itu, Hamas dan Israel resmi menerapkan gencatan senjata selama empat hari mulai pukul 07.00 atau 12.00 WIB.

Selama gencatan senjata, Hamas membebaskan 50 warga Israel termasuk mereka yang memiliki kewarganegaraan ganda, 17 warga Thailand dan satu warga Filipina.

Israel membebaskan 150 tahanan Palestina yang dipenjara di negara tersebut.

Pada Selasa (28/11), kedua belah pihak sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua hari.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, mengatakan kesepakatan awal untuk memperpanjang jeda kemanusiaan adalah satu hari untuk pembebasan tambahan 10 warga Israel.

Namun, dia menerima tawaran baru dari Hamas.

“Kami menerima konfirmasi dari Hamas bahwa 20 sandera tambahan akan dibebaskan dalam waktu dua hari,” kata Al Ansari seperti dikutip Mata Timur Tengah.

Dia kemudian berkata, “Di pihak Palestina, itu berarti 60 warga Palestina akan dibebaskan dari penjara Israel.”

Gencatan senjata terjadi setelah hampir dua bulan agresi Israel terhadap Palestina.

Dalam operasinya, mereka menyerang warga dan fasilitas umum seperti sekolah dan rumah sakit. Akibat serangan Israel, lebih dari 14.800 orang di Palestina tewas.

(membaca)

[Gambas:Video CNN]


!function(f,b,e,v,n,t,s){if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?
n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};if(!f._fbq)f._fbq=n;
n.push=n;n.loaded=!0;n.version=’2.0′;n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;
t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window,
document,’script’,’//connect.facebook.net/en_US/fbevents.js’);

fbq(‘init’, ‘1047303935301449’);
fbq(‘track’, “PageView”);