Berita Senator Kolombia Lolos dari Penculikan oleh Geng Narkoba

by
Berita Senator Kolombia Lolos dari Penculikan oleh Geng Narkoba


Jakarta, Pahami.id

Seorang senator KolumbiaSenator Aida Quilcue, berhasil lolos dari penculikan kelompok tak dikenal di Cauca, wilayah yang penuh konflik, pada Selasa (10/2).

Cauca adalah zona konflik, produsen kokain yang sebagian besar dikendalikan oleh tentara FARC yang telah dibubarkan.


Quilcue (53) adalah senator pemenang penghargaan dan aktivis masyarakat adat. Dia diselamatkan oleh penduduk asli, menurut timnya di X, beberapa jam setelah mobilnya ditemukan ditinggalkan.

“Saya baik-baik saja sekarang,” kata Quilcue sambil menangis dalam video yang diunggah Menteri Pertahanan Kolombia Pedro Sanchez, seperti dikutip AFP.

Video tersebut juga menunjukkan dia dipindahkan ke dalam kendaraan lapis baja oleh unit anti-anak militer Kolombia.

Quilcue mengatakan dia diculik oleh “orang-orang bersenjata”, tanpa menyebutkan kelompok mana yang bertanggung jawab.

“Mereka mengeluarkan kami dari kendaraan dan memaksa kami berjalan ke lokasi yang tidak diketahui,” katanya.

[Gambas:Video CNN]

Namun, saat pelacak dari masyarakat adat mulai mendekat, penculik memilih kabur.

“Mereka melarikan diri dan kami berhasil menyelamatkan diri,” kata Quilcue.

Sebelumnya, Presiden Kolombia Gustavo Petro telah memperingatkan agar Quilcue segera dibebaskan dan menekankan agar pelakunya tidak melampaui batas.

Di hari yang sama, Petro menyatakan dirinya juga menjadi sasaran dan berhasil menghindari upaya pembunuhan.

Setelah berulang kali ia diperingatkan bahwa ada jaringan narkoba yang berencana membunuhnya.

Petro mengungkapkan, pada Senin malam, helikopter yang ditumpanginya gagal mendarat di pantai Karibia.

Pembatalan di lokasi tersebut terjadi karena dikhawatirkan ada pihak tak dikenal yang akan melepaskan tembakan ke arahnya.

“Kami terbang ke laut selama empat jam dan mendarat di lokasi lain agar tidak terbunuh,” kata Petro.

Selama enam dekade, konflik bersenjata antara gerilyawan sayap kiri, paramiliter sayap kanan, kartel narkoba dan militer di Kolombia telah memakan korban lebih dari 250.000 jiwa.

Kekerasan sempat mereda setelah FARC, kelompok pemberontak terbesar di negara itu, menandatangani perjanjian perdamaian dan perlucutan senjata pada tahun 2016.

Namun, pemberontak FARC, yang menolak perjanjian perdamaian, masih berjuang untuk mengendalikan perdagangan kokain yang menguntungkan dan sering menyerang pasukan keamanan.

(isa/bac)