Berita Gajah Ratna Mati di Rahmat Zoo & Park Sumut Diduga Gagal Fungsi Organ

by


Medan, Pahami.id

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensisWanita bernama Ratna itu meninggal di Rahmat Zoo & Park (R-Zoo & Park) di Desa, Bengabing, Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Serdangbedagai, Sumatera Utara pada Sabtu (7/2).

Lembaga Konservasi R-Zoo & Park, Putra Ario mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, pemeriksaan laboratorium dan nekropsi, kematian Ratna disebabkan oleh gangguan fungsi ginjal.

Selain itu juga disertai dengan gangguan fungsi hati dan komplikasi pada organ penting lainnya.


Ratna mati saat menjalani perawatan intensif di R-Zoo & Park. Ratna tiba di R-Zoo & Park pada 29 September 2025 bersama tiga ekor gajah lainnya, yakni Poppy (45 tahun), Uli (6 tahun), dan Lia (15 tahun) , ”ujarnya, Rabu (11/2).

Dijelaskannya, sebelumnya saat tiba di lokasi, beberapa ekor gajah teridentifikasi dalam kondisi tubuh kurang ideal (kurus).

Khusus gajah bernama Ratna, selain masuk dalam kategori usia tua, juga mengalami luka kronis berupa fistula (saluran abnormal) pada telapak kaki kiri depan sehingga memerlukan penanganan medis khusus.

“Selama proses pengobatan, penanganan Ratna menghadapi tantangan tersendiri karena Ratna tidak bisa dikendalikan (tahan/kontrol) sempurna seperti gajah betina jinak lainnya dan tidak bisa ditunggangi mahout,” jelas Putra Ario.

Oleh karena itu, setiap tindakan medis luka fistula dilakukan melalui prosedur anestesi terlebih dahulu untuk menjamin keamanan dan efektivitas pengobatan.

Pada masa adaptasi dengan lingkungan baru, pada tanggal 30 Oktober 2025, terdeteksi adanya edema pada bagian perut.

“Pada tanggal 12 November 2025 dilakukan pengobatan awal berupa vitamin dan terapi suportif yang menunjukkan perbaikan bertahap,” jelasnya.

Namun pada 1 Januari 2026, peradangan kembali terjadi pada luka fistula di kaki Ratna yang kemudian disertai pengelupasan kulit di sekitar area tersebut pada 11 Januari 2026.

Berdasarkan perkembangan tersebut, pihak manajemen R-Zoo & Park merekomendasikan tindakan medis lebih lanjut karena kondisi luka tersebut dinilai belum ditangani secara tuntas sebelumnya, jelasnya.

Dalam melakukan pengobatan medis, R-Zoo & Park bekerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumut (BBKSDA Sumut) serta dokter hewan luar yang direkomendasikan oleh BBKSDA Sumut.

“Setelah dilakukan perawatan medis, luka menunjukkan kemajuan dalam pemulihan, namun belum maksimal. Untuk memastikan keadaan fisiologis dan fungsi organ penting, dilakukan pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan fungsi ginjal terpengaruh,” ujarnya.

Selama perawatan lanjutan, Ratna, 50 tahun, juga mengalami penurunan nafsu makan dan minum sehingga dilakukan pemeriksaan darah lanjutan yang menunjukkan adanya gangguan fungsi hati.

Berdasarkan pengkajian klinis menyeluruh, hasil pemeriksaan laboratorium, dan hasil nekropsi visum, dapat disimpulkan penyebab utama meninggalnya Ratna adalah gangguan fungsi ginjal dan hati disertai gangguan organ penting lainnya seperti jantung dan saluran pencernaan, ujarnya.

Gangguan fungsi ginjal yang dialami Ratna diduga bersifat multifaktorial, dipengaruhi oleh kondisi fisik awal yang buruk, usia lanjut, serta proses adaptasi lingkungan dan manajemen pemeliharaan di tempat baru.

Kondisi tubuh yang tidak optimal diduga akan membatasi kemampuan organ, terutama ginjal dan hati, dalam memproses asupan nutrisi dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan, ujarnya.

Akumulasi berbagai faktor tersebut, lanjutnya, menyebabkan penurunan fungsi organ secara bertahap sehingga berdampak pada kondisi umum yang semakin memburuk hingga akhirnya Ratna tidak dapat bertahan hidup.

Manajemen R Zoo & Park bersama BBKSDA Sumut menyampaikan seluruh proses penanganan dilakukan sesuai prosedur medis dan aturan kesejahteraan hewan, dengan bantuan dokter hewan dan pengawasan para pelestari lingkungan, kata Putera Ario.

(fnr/anak)