Berita Rusia Bantah Isu BRICS Jadi Aliansi Militer

by
Berita Rusia Bantah Isu BRICS Jadi Aliansi Militer


Jakarta, Pahami.id

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov membantah rumor adanya blok ekonomi BRIK mencoba berubah menjadi aliansi militer.

Ryabkov menekankan bahwa BRICS tidak dirancang sebagai organisasi keamanan kolektif dengan tanggung jawab bantuan militer bersama.

“BRICS tidak pernah dikonsep dengan semangat seperti itu, dan tidak ada rencana untuk mengubah BRICS ke arah tersebut,” kata Ryabkov dalam sebuah wawancara dengan kantor berita negara. TASSSabtu (14/2), seperti diberitakan Anatolia.


Dia menambahkan bahwa agenda blok beranggotakan 11 negara itu tidak mencakup latihan militer gabungan atau pengendalian senjata.

Ryabkov juga menjelaskan bahwa latihan angkatan laut tersebut bertajuk “Keinginan untuk Perdamaian 2026″ yang diadakan di Afrika Selatan pada bulan Januari lalu bukanlah agenda resmi BRICS.

Menurutnya, negara-negara anggota yang terlibat termasuk Tiongkok, Iran, dan Rusia berpartisipasi atas nama kapasitas nasional masing-masing.

Terkait keamanan jalur pelayaran, Ryabkov mengatakan BRICS tidak memiliki mandat militer untuk melindungi kapal tanker.

Ia menambahkan, fokus utama blok tersebut tetap pada peningkatan efisiensi jalur perdagangan antar anggota, memperkuat ketahanan ekonomi dari tekanan eksternal, dan pertumbuhan perdagangan antar negara BRICS telah melampaui rata-rata global.

Meski bukan aliansi militer, Ryabkov menegaskan BRICS dapat mengekspresikan solidaritas politik bagi anggotanya.

Saat ini, Moskow dan Beijing berupaya menciptakan “lingkungan politik yang sesuai” untuk mendukung negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Hubungan Iran dan AS kembali menjadi sorotan setelah kedua negara mengadakan pembicaraan tidak langsung di Oman pada 6 Februari. Ini merupakan kontak pertama setelah terhenti selama delapan bulan menyusul serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran dalam perang singkat Iran-Israel pada Juni 2025.

Presiden AS Donald Trump saat ini menekan Iran untuk segera mencapai kesepakatan baru di tengah memburuknya situasi ekonomi Iran. Namun negosiasi masih menemui jalan buntu.

Permasalahan yang masih menemui jalan buntu antara AS dan Iran antara lain tuntutan AS agar Iran menghentikan pengayaan dan mengirimkan stok uranium yang telah diperkaya ke luar negeri.

Belakangan, Washington ingin memasukkan isu rudal dan dukungan terhadap kelompok bersenjata regional dalam perjanjian tersebut. Iran sendiri menegaskan tidak akan membahas masalah apa pun di luar program nuklirnya.

(Wow)