Jakarta, Pahami.id —
Massa ojek online menggelar aksi unjuk rasa di depan kawasan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) dan simpang selatan Monas, Jakarta Pusat, Rabu (14/1).
Berdasarkan pemantauan CNNIndonesia.comPukul 13.00 WIB, masyarakat tampak memenuhi area aksi sambil membawa sejumlah tuntutan.
Para pengemudi ojek online berunjuk rasa menuntut diskon tarif oleh aplikator dibatasi maksimal 10 persen.
Salah satu relawan Asosiasi Taksi Bermotor Online (O2), Regar mengatakan, potongan yang dikenakan aplikator terlalu besar.
“Harus 10 persen. Diskon 10 persen. Selama ini lebih 30 persen dari aplikator. Begitulah. Kita kena tarif 30 persen lagi. Makanya di sini kita tekankan, saya dan rekan-rekan berharap diskon tarifnya diharapkan 10% supaya manusiawi bagi mitra.
Selain itu, tuntutan yang disampaikan terkait pemenuhan jaminan sosial bagi pengemudi online antara lain BPJS, pendidikan, dan perumahan gratis.
Regar juga mengatakan hal itu berkaitan dengan masalah kesejahteraan pengemudi, khususnya terkait kesehatan dan perlindungan saat bekerja. Ia mengatakan, klaim asuransi kecelakaan bagi pengemudi masih sulit direalisasikan.
“Selama ini untuk mitra salah satunya untuk kesejahteraan yang didasari oleh kesehatan pengemudi mitra. Kemudian untuk kecelakaan yang sulit diklaim,” ujarnya.
“Bagi rekan-rekan yang meninggal di jalan saat mencari nafkah, kami mencoba mengklaim bahwa asuransi untuk mitra tersebut selama ini tidak ada,” lanjutnya.
Demonstrasi tentang Maduro di Kedutaan Besar AS
Selain itu, dalam aksi di depan Kedutaan Besar AS di Jalan Medan Merdeka Selatan, massa memprotes tindakan Paman Sam yang menyerbu Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro.
Mereka menuntut AS membebaskan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Ya, salah satu tuntutan kami adalah bagaimana membebaskan Maduro, kata Jenderal )2 Cecep Saripudin di depan Kedutaan Besar AS, Rabu malam seperti dikutip dari detik.com
Cecep pun menuntut agar AS tidak lagi menginvasi Venezuela. Menurutnya, Venezuela harus memiliki kebebasan dalam demokrasi.
“Venezuela adalah bagian dari negara yang seharusnya memiliki kebebasan dalam demokrasi, kebebasan dalam menjalankan negaranya. Amerika sebagai simbol demokrasi saat ini adalah omong kosong karena kenyataannya saat ini semua hukum internasional telah dilanggar oleh Amerika,” ujarnya.
Sebelumnya, Kapolres Jakarta Pusat Kompol Reynold EP Hutagalung mengatakan, sebanyak 1.541 anggota dikerahkan untuk mengamankan aksi demonstrasi yang dilakukan para pengemudi ojek online.
Dia mengatakan, aksi demonstrasi yang dilakukan Asosiasi Taksi Online Indonesia dan sejumlah elemen massa terjadi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Monas Silang Selatan, Gambir, Jakarta Pusat.
Seluruh personel keamanan, kata Reynold, tidak dilengkapi senjata api dan lebih memilih pendekatan kemanusiaan dan profesional.
Ia juga menegaskan kehadiran aparat semata-mata untuk melayani masyarakat dan menjamin hak konstitusional masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya secara damai.
“Staf di lapangan tidak membawa senjata api dan diinstruksikan untuk selalu mengedepankan sikap kemanusiaan, persuasif, dan profesional,” kata Reynold seperti dilansir Antara. di antara.
(nat/anak)

