Berita 646 Tewas, Teheran Siap Perang

by
Berita 646 Tewas, Teheran Siap Perang

Daftar isi



Jakarta, Pahami.id

Iran telah menjadi sorotan setelah gelombang protes menyebar di seluruh negeri beberapa minggu lalu.

Masyarakat awalnya memprotes karena tingginya inflasi, namun kemudian tekanan menyebar hingga menuntut pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mundur.


Selama demonstrasi, pihak berwenang dilaporkan menggunakan kekerasan yang berlebihan. Sementara itu, pemerintahan Khamenei menyebut demonstrasi tersebut disusupi oleh kepentingan asing, dalam hal ini Amerika Serikat dan Israel.

Berikut fakta terbaru demonstrasi massal di Iran.

1. Korban tewas mencapai 646 orang

Kantor berita hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA, melaporkan jumlah korban tewas dalam demonstrasi baru-baru ini di Iran sebanyak 646 orang.

Dari total korban tewas, 505 di antaranya adalah pengunjuk rasa dan sembilan lainnya adalah anak-anak. HRANA juga melaporkan bahwa 10.721 orang telah ditangkap, seperti dikutip Berita ABC.

2. Presiden Iran ikut serta dalam demonstrasi

Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi ikut serta dalam demonstrasi mendukung pemerintah Iran pada Senin (12/1).

Televisi pemerintah Iran melaporkan demonstrasi tersebut sebagai “pemberontakan Iran melawan terorisme Amerika-Zionis.” Warga memenuhi jalan-jalan Teheran dan menuju ke Lapangan Enqelab.

Dalam video yang beredar, Massoud terlihat mengenakan jaket biru dan dikelilingi petugas, seperti dikutip Al Jazeera.

Dalam aksi tersebut, warga juga mendengarkan pidato Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf yang mengkritik campur tangan Barat. Dia mengatakan Iran berperang di empat front.

“Perang ekonomi, perang psikologis, perang militer melawan AS dan Israel, dan hari ini perang melawan terorisme,” kata Ghalibaf seperti dikutip. Penjaga.

3. Khamenei menuduh AS menargetkan minyak Iran

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengkritik pemerintahan Donald Trump karena mencampuri urusan negaranya di tengah demonstrasi massal. Khamenei curiga Trump punya motif lain untuk menargetkan minyak Iran.

“Mereka yang memulai konflik ini. AS yang memulainya, musuh yang bergantung pada AS yang memulainya,” katanya.

Khamenei kemudian berkata, “Mengapa mereka memulai ini? Mengapa AS begitu muak dan marah terhadap Iran? Alasannya jelas. Karena kekayaan negara ini.”

Iran memiliki sejarah diguncang oleh demonstrasi besar-besaran dan pergantian pemerintahan. Namun perubahan tersebut tidak lepas dari intervensi asing.

4. Iran siap berperang melawan AS

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan siap berperang jika Amerika Serikat ikut campur dalam urusan negara Timur Tengah tersebut menyusul demonstrasi besar-besaran selama beberapa hari terakhir.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan bahwa pemerintah tidak menginginkan perang dan tidak akan melancarkan serangan awal.

“Kami tidak menginginkan perang, tapi kami siap menghadapinya sepenuhnya, bahkan lebih siap dari perang sebelumnya,” kata Baghaei, Senin (12/1), dikutip CNN.

Ia kemudian berkata, “Alasannya jelas: cara terbaik mencegah perang adalah dengan mempersiapkan perang, sehingga musuh kita tidak lagi melakukan kesalahan.”

Meski demikian, Baghaei juga menegaskan Iran terbuka untuk berdialog dengan Amerika Serikat.

5. Warga negara AS diminta meninggalkan Iran

Pemerintahan Donald Trump meminta masyarakat Amerika Serikat segera meninggalkan Iran menyusul ancaman serangan dari Negeri Paman Sam.

Kedutaan Besar AS di Iran menyerukan warga Amerika untuk segera meninggalkan Iran dengan bebas melalui perbatasan yang masih terbuka.

“Warga AS disarankan untuk segera meninggalkan Iran secara mandiri, tanpa bergantung pada bantuan pemerintah AS,” demikian pernyataan Kedutaan Besar AS, seperti dikutip Iran International.

(isa/rds)