Berita 29 Desa Aceh dan Sumut Hilang Akibat Bencana, Ada yang Jadi Sungai

by
Berita 29 Desa Aceh dan Sumut Hilang Akibat Bencana, Ada yang Jadi Sungai


Jakarta, Pahami.id

Menteri Desa dan PDT Yandri Susanto mengungkap sebanyak 29 desa di Aceh dan Sumatera Utara (Sumut) hilang akibat bencana hidrometeorologi banjir dan tanah longsor yang terjadi secara sporadis di tiga wilayah Sumut pada akhir November 2025.

Katanya, beberapa desa yang hilang bahkan berubah menjadi sungai.


Nah, ada desa-desa yang jadi sungai. Jadi banyak desa yang selalu di sempadan sungai. Kalau banjir, sungainya berpindah ke desa itu, jadi desa itu hilang sama sekali. Tapi masyarakatnya, termasuk kepala desa dan pejabat lainnya, masih ada, mengungsi, kata Yandri dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR RI, Jakarta, Selasa (27/1).

Kata dia, berdasarkan data per 12 Januari, 29 desa hilang tersebut tersebar di enam kabupaten/kota.

Rinciannya 21 desa di Aceh dan delapan desa di Sumut.

“Di Aceh ada 21 desa. Ini hilang total. Yang tadi saya sampaikan ada yang jadi sungai, ada pula yang tertutup lumpur. Jadi desa-desa itu sudah tidak ada lagi. Termasuk bangunan dan prasarananya sudah tidak ada sama sekali. Di Sumut ada 8 desa. Lalu di Provinsi Sumbar tidak ada desa yang hilang,” kata Yandri.

Ia mengatakan, pemerintah menyiapkan langkah-langkah penanganan desa hilang melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga sesuai Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2026, dengan Menteri Dalam Negeri sebagai ketua gugus tugas.

Selain itu, pemerintah juga melakukan pemetaan dan pemutakhiran data desa terdampak, penyusunan rencana, serta penyediaan lahan pemukiman kembali yang aman dan tidak rentan lagi terhadap banjir atau tanah longsor.

“Kelima, rekonstruksi sarana dan prasarana dasar. Ada rumah, tentu ada fasilitas air bersih yang lengkap, fasilitas pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Pemulihan ekonomi, ini penting di tingkat desa nanti. Ada desa tematik, UKM, Bumdes, Kopdes dan tentunya ada pasar desa,” ujarnya.

Banjir bandang dan tanah longsor secara sporadis melanda beberapa wilayah di tiga provinsi di Pulau Sumatera pada akhir November 2025. Bencana ini berdampak pada 53 kabupaten/kota di Aceh, Sumatera Barat (Sumbar), dan Sumatera Utara (Utara Sumatera).

Berdasarkan data resmi BNPB, jumlah korban meninggal akibat banjir bandang dan tanah longsor di tiga wilayah tersebut mencapai 1.204 orang hingga Selasa (27/1).

Mengutip laman resmi BNPB, masih terdapat 111.800 orang yang kehilangan tempat tinggal. Sedangkan korban hilang masih berjumlah 140 orang.

Jumlah kematian tertinggi terjadi di Aceh Utara yakni 246 orang. Berikut ini adalah Agam dengan jumlah korban meninggal sebanyak 197 orang.

Aceh Utara juga menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak yakni 33 ribu jiwa.

Total wilayah terdampak bencana di tiga wilayah tersebut mencapai 53 kabupaten/kota. Terdapat 247.949 rumah rusak akibat bencana tersebut.

Menteri Dalam Negeri Tito melaporkan, baru satu kabupaten/kota di Aceh yang kembali beraktivitas normal pasca dilanda banjir dan longsor beberapa waktu lalu. Katanya daerah itu Kab. Aceh Besar.

“Kita memang perlu bekerja lebih keras di Aceh karena di Aceh hanya ada satu yang normal yaitu Kabupaten Aceh Besar,” kata Tito dalam rapat koordinasi gugus tugas percepatan pemulihan dan rekonstruksi pasca bencana Sumatera di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (26/1).

Tito mengatakan, saat ini delapan wilayah di Aceh masih memerlukan perhatian khusus pascabencana ini. Diberitakannya, ketiga wilayah tersebut berada di pegunungan Aceh, yakni Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah.

Rata-rata masalahnya longsor atau jalan hilang dan jembatan putus. Jalan nasional sudah masuk, itu saja. Kalau tidak pakai jembatan sementara, pakai jalur alternatif, ada terobosan, katanya.

Tito juga menjelaskan, ada 18 wilayah terdampak di Aceh. Saat ini baru sembilan kabupaten/kota yang sudah kembali normal.

(yoa/anak-anak)