Kemampuan anak mengendalikan emosi berkembang secara bertahap seiring pertumbuhan otak. Jika orang tua melihat tanda-tanda tertentu pada buah hati, hal tersebut mengindikasikan pola pengasuhan yang diterapkan telah berhasil.
Fase Perkembangan dan Pengendalian Diri Anak
Secara umum, banyak anak mengalami kemajuan besar dalam mengatur perilaku dan emosinya pada usia 3 hingga 7 tahun. Pada fase ini, peran orang tua sangat penting sebagai pendamping.
Dalam lima tahun kehidupan pertama anak, ada beberapa bagian otak yang masih membutuhkan waktu lebih lama untuk matang, salah satunya prefrontal cortex. Mengutip Cleveland Clinic, bagian otak ini berperan dalam pengendalian diri, pengambilan keputusan, dan pengelolaan emosi. Jadi, wajar jika anak kecil masih sering kesulitan menahan keinginan, marah, atau menyesuaikan diri dengan situasi baru. Meski begitu, merangkum dari berbagai sumber, ada sejumlah tanda anak mulai bisa mengendalikan emosi yang bisa dikenali orang tua dalam keseharian.
6 Tanda Anak Mulai Bisa Mengendalikan Emosi
Orang tua dapat mengamati beberapa indikator perilaku berikut untuk melihat perkembangan kontrol emosi anak.
Pertama, mampu mengikuti rutinitas. Menurut laman Edutopia, salah satu tandanya, yakni anak mulai mampu mengikuti rutinitas harian. Anak mungkin belum paham soal jam, tetapi ia mulai mengerti urutan kegiatan yang berulang, seperti makan, mandi, belajar, lalu bermain. Ketika anak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, ia cenderung lebih tenang dan tidak mudah rewel saat berpindah aktivitas.
Kedua, mampu bertransisi dari kegiatan menyenangkan. Anak yang mulai bisa berpindah dari aktivitas menyenangkan ke aktivitas lain tanpa banyak drama, menunjukkan perkembangan pengendalian emosi. Misalnya, ia bisa meninggalkan taman bermain untuk pulang, atau berhenti memakai gawai saat waktu belajar tiba.
Ketiga, mulai sabar menunggu giliran. Kesabaran menunggu giliran merupakan milestone penting pada usia 3-5 tahun. Anak yang sudah mampu mengantre, menunggu saat berbicara, atau tidak langsung berebut mainan, menunjukkan kemampuan mengatur keinginan.
Keempat, mampu mengikuti instruksi. Anak yang dapat mendengarkan dan menjalankan instruksi sederhana, seperti merapikan mainan atau mencuci tangan sebelum makan, berarti ia mulai bisa menahan impuls. Kemampuan ini menandakan anak bisa fokus pada arahan dan tidak selalu bertindak spontan. Makin baik anak mengikuti instruksi, makin kuat pula kontrol emosinya berkembang.
Kelima, bisa fokus pada satu aktivitas lebih lama. Daya fokus yang mulai meningkat juga menjadi tanda penting. Anak yang bisa duduk lebih tenang saat membaca buku, mewarnai, atau menyusun balok cukup lama, menunjukkan kemampuan konsentrasi yang membaik.
Keenam, bisa menenangkan diri setelah marah atau sedih. Anak yang mulai mampu menarik napas, diam sejenak, atau mencari pelukan orang tua setelah kecewa, menunjukkan kemajuan besar dalam pengendalian diri. Ia belum tentu selalu tenang sempurna, tetapi mulai punya cara untuk kembali stabil setelah emosi memuncak.
Tips Mengajarkan Anak Mengendalikan Emosi
Jika tanda-tanda di atas belum tampak jelas, Anda tidak perlu khawatir. Yang terpenting, sebagai role model, teruslah mengajarkan dan memberi contoh dalam mengendalikan emosi.
Mengutip laman Happy Families, ada sedikit panduan yang bisa diterapkan. Anda bisa mendiskusikan soal pengendalian emosi dengan bahasa sederhana kepada anak. Misalnya, ceritakan bagaimana sikap tenang membantu Ayah atau Ibu menyelesaikan masalah. Ajak anak juga menceritakan bagaimana ia berhasil mengendalikan dirinya hari itu. Lakukan ini secara rutin agar anak memahami bahwa pengendalian emosi adalah hal penting.
Saat anak mulai kehilangan kendali, beri gentle reminder untuk tetap tenang dan memilih tindakan yang baik. Jangan lupa, orang tua juga perlu memberi contoh yang konsisten.
Selain itu, hindari memberi reward berlebihan setiap kali anak berhasil mengendalikan emosi, karena ini justru menunjukkan orang tualah yang mengendalikan anak. Anda tentu ingin motivasi pengendalian emosi anak datang dari dalam dirinya sendiri.
