Jakarta, Pahami.id —
Pembersihan besar-besaran yang dilakukan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dikatakan telah memasuki fase baru yang lebih serius.
Situasi ini dinilai mengguncang struktur militer China dan menimbulkan suasana ketakutan di kalangan angkatan bersenjata.
Penundaan eksekusi dua mantan menteri pertahanan Tiongkok, Li Shangfu dan Wei Fenghe, menandai titik balik penting dalam sejarah Partai Komunis Tiongkok (PKT). Keduanya dinyatakan bersalah melakukan suap dan korupsi.
Disebutkan, Li dan Wei diketahui merupakan sekutu dekat Xi Jinping. Namun turunnya kedua tokoh tersebut dinilai menunjukkan bahwa Xi bersedia mencopot orang-orang terdekatnya sekalipun demi memperkuat kontrol politik.
Kampanye yang secara resmi disebut sebagai gerakan antikorupsi ini kini semakin dipandang sebagai upaya untuk menanamkan rasa takut di kalangan militer.
Hukuman berat terhadap dua mantan pejabat tinggi tersebut mengejutkan banyak petinggi PLA. Selama beberapa dekade, jenderal berpangkat tinggi jarang mendapat hukuman ekstrem.
Situasi ini disebut-sebut telah memicu paranoia di kalangan perwira menengah dan junior, yang mulai khawatir bahwa mereka bisa menjadi sasaran berikutnya, terlepas dari loyalitas atau kinerja mereka.
Para pengamat menilai suasana saling curiga mulai mengganggu kesatuan internal militer China. Tentara dikatakan lebih ragu-ragu dalam mengambil keputusan, sedangkan komandan enggan bertindak independen karena takut akan dampak politik.
Ciptakan rasa takut
Pembersihan Xi tidak berhenti pada Li dan Wei. Pada bulan Januari 2026, penyelidikan diumumkan terhadap Zhang Youxia, wakil ketua Komisi Militer Pusat, serta Liu Zhenli, kepala Departemen Staf Gabungan PLA.
Meski keduanya masih tercatat memegang jabatan resmi, namun dikabarkan menghilang dari ranah publik.
Zhang sendiri dikenal sebagai salah satu jenderal Tiongkok yang memiliki pengalaman tempur langsung, pernah ikut serta dalam perang Tiongkok-Vietnam pada tahun 1979.
Menurut laporan tersebut, hilangnya beberapa tokoh senior telah menciptakan kekosongan kepemimpinan pada saat Tiongkok berupaya mempercepat modernisasi militernya menuju tahun 2027.
Situasi ini dinilai menghambat kesiapan operasional PLA.
Laporan ini juga menyoroti dampak strategis dari pembersihan tersebut. Struktur komando militer Tiongkok disebut-sebut melemah akibat pergantian perwira dan meningkatnya ketidakstabilan di tingkat atas.
Kasus Wei Fenghe, yang sebelumnya memimpin Pasukan Roket Tiongkok, menimbulkan pertanyaan tentang keandalan sistem komando nuklir Beijing.
Lemah dari dalam
Sementara itu, jatuhnya Li Shangfu disebut-sebut menunjukkan lemahnya sistem pengadaan dan pengembangan peralatan militer China.
“Xi lebih fokus untuk menciptakan ketakutan dibandingkan sekadar memberantas korupsi,” kata laporan tersebut, yang juga mencatat bahwa loyalitas militer kini dibangun melalui intimidasi, bukan efisiensi.
Situasi ini dinilai berisiko melemahkan semangat juang dan rasa saling percaya terhadap PLA.
Beberapa sumber dalam bahkan menggambarkan PLA sebagai “raksasa yang menderita lumpuh otak,” karena ukuran dan kekuatannya tidak lagi sesuai dengan efektivitas kepemimpinan.
Xi Jinping juga disebut-sebut telah memecat lima dari tujuh anggota Komisi Militer Pusat sejak 2022, hanya menyisakan dirinya dan Zhang Shengmin. Meskipun langkah tersebut memperkuat kendali pribadi Xi, situasi tersebut dipandang membuat struktur militer semakin dipenuhi rasa takut dan ketidakpercayaan.
Dampak dari pembersihan tersebut tidak hanya dirasakan di dalam negeri, namun juga berdampak pada citra Tiongkok secara global.
“Tentara yang sibuk dengan pembersihan internal merasa sulit menunjukkan otoritas yang kredibel di luar negeri,” kata laporan Nepal Only.
Upaya modernisasi PLA untuk menyamai kekuatan militer Amerika Serikat pada tahun 2027 kini dikatakan berisiko akibat ketidakstabilan internal.
“PLA mungkin tetap menjadi kekuatan militer terbesar di dunia, namun dalam suasana ketakutan dan ketidakpercayaan, kekuatannya bisa melemah dari dalam,” laporan tersebut menyimpulkan.
(Dna)
Menambahkan
sebagai pilihan
sumber di Google

