Berita WHO Tinjau Langsung Pusat Wabah Ebola di Kongo Timur

by
Berita WHO Tinjau Langsung Pusat Wabah Ebola di Kongo Timur


Jakarta, Pahami.id

Pemimpin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengunjungi wilayah timur Republik Demokratik Kongo (DRC) yang merupakan episentrum wabah tersebut Ebola. Kunjungan ini dilakukan di tengah peningkatan jumlah kasus dan kekhawatiran terhadap meluasnya penyebaran penyakit mematikan tersebut.

Tedros tiba di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, pada Sabtu (30/5). Wilayah ini merupakan salah satu wilayah yang paling terkena dampak wabah Ebola terbaru di negara Afrika Tengah tersebut.

Dalam pernyataannya kepada wartawan, Tedros mengatakan komunitas internasional terus membantu pemerintah Kongo dalam menangani wabah tersebut. Namun menurutnya, keterlibatan masyarakat setempat menjadi faktor yang tak kalah penting dalam upaya pengendalian penyakit tersebut.


“Kami di sini untuk berbicara dengan masyarakat, melihat bagaimana respons yang terjadi, dan memahami tantangannya sehingga kami dapat membantu,” kata Tedros dilansir Antara. AFP.

Wabah Ebola kini telah menyebar ke tiga wilayah di wilayah timur Kongo dan bahkan melintasi perbatasan hingga Uganda. Negara-negara tetangga telah melaporkan sembilan kasus yang dikonfirmasi, termasuk satu kematian.

Menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Afrika), sejak wabah ini diumumkan pada tanggal 15 Mei, setidaknya ada 1.077 kasus dugaan Ebola di Kongo. Dari jumlah tersebut, 246 orang dilaporkan meninggal dunia.

WHO memperingatkan bahwa angka sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi. Virus ini diperkirakan telah menyebar di masyarakat sebelum terdeteksi oleh otoritas kesehatan.

Keterbatasan fasilitas kesehatan dan laboratorium di Kongo menjadi tantangan besar dalam mengonfirmasi kasus. Situasi ini semakin rumit karena wilayah timur negara ini telah lama dilanda konflik bersenjata dan ketidakstabilan keamanan.

Konflik dan ancaman proliferasi

Lonjakan kasus Ebola mendorong Uganda menutup perbatasannya dengan Kongo pada minggu ini. Pemerintah Uganda juga mewajibkan karantina selama 21 hari bagi semua orang yang datang dari negara tersebut.

Di tengah situasi yang mengkhawatirkan, WHO melaporkan perkembangan positif. Seorang pasien Ebola dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang pada Rabu (27/5) setelah menjalani dua kali tes dengan hasil negatif.

Pejabat WHO Anais Legand mengatakan pasien tersebut adalah orang pertama yang pulih dari kasus Ebola yang terkonfirmasi dalam wabah tersebut.

Ebola adalah demam berdarah yang sangat menular dan menyebar melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi atau cairan tubuh. Dalam lima dekade terakhir, penyakit ini telah menewaskan lebih dari 15 ribu orang di Afrika.

Kongo sendiri pernah mengalami wabah Ebola paling mematikan pada tahun 2018-2020. Selama kurun waktu tersebut, hampir 2.300 orang meninggal dari sekitar 3.500 kasus yang tercatat.

Organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) atau Doctors Without Borders menilai epidemi saat ini berkembang sangat cepat. Dalam pernyataannya, MSF mengatakan belum pernah terjadi sebelumnya wabah Ebola mencatat kasus sebanyak ini hanya dalam beberapa hari setelah diumumkan secara resmi.

MSF juga menekankan terbatasnya jumlah tenaga medis dan spesialis kesehatan yang dikerahkan di wilayah yang terkena dampak.

Kamp pengungsian merupakan sumber kekhawatiran

Wilayah Ituri menghadapi tantangan tambahan berupa konflik yang berkepanjangan. Kehadiran kelompok bersenjata, termasuk militan ADF yang berafiliasi dengan ISIS, membuat akses ke beberapa wilayah menjadi sangat sulit.

Sementara itu, provinsi tetangganya, Kivu Utara dan Kivu Selatan, juga terus dilanda kekerasan. Beberapa wilayah bahkan berada di bawah kendali kelompok bersenjata M23 yang didukung Rwanda dan terlibat bentrokan dengan pasukan pemerintah.

Konflik selama puluhan tahun telah memaksa jutaan warga meninggalkan rumah mereka. Banyak dari mereka tinggal di kamp pengungsian dengan sanitasi yang buruk.

Hampir satu juta pengungsi kini berada di Provinsi Ituri. Kondisi kamp yang penuh sesak telah menimbulkan kekhawatiran bahwa wabah ini dapat menyebar lebih cepat.

“Jika Ebola datang ke sini, kita bisa musnah hidup-hidup seperti ikan sarden,” kata pengungsi Dorcas Mapenzi di Kamp Kingonze, di pinggiran Bunia.

Hingga saat ini belum ada vaksin atau pengobatan khusus yang tersedia untuk strain Bundibugyo, varian Ebola yang menyebabkan wabah saat ini. Namun, Kepala CDC Afrika menyatakan vaksin untuk strain ini diharapkan sudah tersedia sebelum akhir tahun.

(sels/sel)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google