Berita Warga Dievakuasi, Status Tanggap Darurat Ditetapkan

by
Berita Warga Dievakuasi, Status Tanggap Darurat Ditetapkan

Daftar isi



Jakarta, Pahami.id

Banjir yang terjadi akibat hujan lebat pada minggu ini di beberapa wilayah pulau HalmaheraMaluku Utara.

Sejumlah wilayah antara lain Halmahera Barat dan Halmahera Utara terendam banjir.


Halmahera Utara

Mengutip dari di antaraPemerintah Kabupaten Halmahera Utara menyatakan keadaan darurat akibat banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah desa di wilayah tersebut. Penjabat Raja Halmahera Utara, Piet Hein Babua mengatakan, banjir melanda puluhan desa di tiga kecamatan di kabupaten tersebut.

Banjir dan longsor melanda puluhan desa di tiga kecamatan yakni Kao Barat, Galela Utara, dan Loloda Utara menyusul hujan deras yang terjadi Selasa lalu. Curah hujan yang tinggi menyebabkan volume air sungai meningkat hingga meluap dan memicu longsor di beberapa wilayah, kata Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua, dalam konferensi pers, Rabu (7/1).

Piet menjelaskan, di Kecamatan Kao Barat terdapat beberapa desa yang terdampak banjir.

Beberapa diantaranya adalah Desa Soamaetek, Pitago, Tuguis, Parseba, Bailengit dan Tubuolamo. Desa-desa ini terendam banjir akibat meluapnya air sungai setelah hujan deras berkepanjangan.

Sementara di Kecamatan Galela Utara, banjir melanda Desa Saluta, Tutumaluleo, Togasa dan Pelita akibat meluapnya Sungai Pitago. Selain merendam pemukiman warga, bencana juga merusak dua jembatan sehingga tidak bisa dilalui kendaraan besar.

“Dari musibah ini, di Kampung Pelita ada satu orang meninggal dunia (belum diketahui namanya). Pemprov juga menyampaikan belasungkawa atas duka yang dialami keluarga korban,” kata Piet.

Di Distrik Loloda Utara, banjir mengepung lima desa yakni Ngajam, Worimoi, Doitia, Asimiro dan Darume. Namun upaya pengendalian di kawasan ini menemui kendala.

Pada Rabu, dia mengatakan BPBD Halmahera Utara kesulitan memasuki lokasi bencana karena kondisi jalan yang dipenuhi lumpur dan genangan air.

“BPBD baru bisa menjangkau Kampung Tate dan belum bisa menembus lokasi longsor. Selain itu, koordinasi menuju lokasi juga terhambat karena cuaca laut yang tidak bersahabat,” ujarnya.

Selain itu, kata Piet, pemerintah kabupaten juga telah menyalurkan bantuan stimulus kepada warga terdampak. Selanjutnya, BPBD akan melakukan pendataan secara menyeluruh untuk memastikan jumlah dan kondisi penduduk terdampak banjir dan tanah longsor.

“Data yang lengkap akan menjadi dasar penanganan selanjutnya sehingga bantuan dapat tepat sasaran,” kata Piet.

Halmahera Barat

Sementara di Kabupaten Halmahera Barat, tim SAR diterjunkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak banjir setelah beberapa hari diguyur hujan deras.

Kepala Basarnas Ternate Iwan Ramdani mengatakan, banjir terjadi di Ibu Kota dan berdampak pada beberapa desa, antara lain Kampung China dan Kampung Tabaru.

Luapan air yang tiba-tiba menyebabkan beberapa rumah terendam banjir dan jalan terputus. Bahkan, sejumlah warga dilaporkan terjebak banjir dan tak mampu menyelamatkan diri akibat derasnya aliran air dan naiknya permukaan air.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, hujan lebat terjadi sejak Selasa (6/1) hingga Rabu kemarin di wilayah Kabupaten Halmahera Barat.

Keadaan ini menyebabkan keluarnya air sungai terus meningkat. Rabu sekitar pukul 07.30 WIB, sejumlah sungai di Kecamatan Induk meluap. Selain itu, tanggul dan bronjong dikabarkan jebol di beberapa titik sehingga menyebabkan pemukiman warga cepat terendam banjir.

Mengetahui situasi tersebut, warga sekitar langsung melaporkan kejadian banjir tersebut ke Pemerintah Kecamatan Kabupaten Halmahera Barat.

Iwan mengatakan, Kantor SAR Ternate segera mengerahkan Tim Rescue ke lokasi kejadian. Tim SAR dibagi menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU) untuk mempercepat penanganan dan evakuasi korban banjir.

SRU 1 diberangkatkan menggunakan Kapal Nasional (KN) SAR 237 Pandu Dewanata yang bergerak dari Pelabuhan A Yani Ternate menuju Pelabuhan Jailolo. Dalam misi tersebut, tim membawa berbagai peralatan SAR yang diperlukan untuk mendukung operasi evakuasi dan tanggap darurat di wilayah banjir.

Sedangkan SRU 2 berangkat melalui jalur darat menggunakan Mobil Rescue dan truk personel. Tim bergerak menuju Pelabuhan Sidangoli kemudian melanjutkan perjalanan langsung menuju lokasi banjir di Kecamatan Induk. Fokus utama SRU 2 adalah merelokasi warga yang masih terjebak di pemukiman banjir.

Selain itu, Direktorat Polisi Air dan Udara (Polairud) Polda Malut melalui Markas Satuan Halmahera Barat (Marnit) juga melakukan pencarian dan pemberian bantuan kepada warga terdampak banjir di Desa Tongute Ternate, Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat.

Kabid Humas Polda Malut, Kompol Wahyu Istanto Bram mengatakan, operasi tersebut dipimpin langsung Danmarnit Halmahera Barat, Aipda Julkifli Humah bersama tiga anggota Polairud lainnya.

Personil dikerahkan ke lokasi banjir sebagai respon cepat terhadap luapan air yang merendam pemukiman warga menyusul curah hujan yang relatif tinggi.

Setibanya di lokasi, anggota Polairud memantau situasi dan berkoordinasi dengan warga sekitar untuk memastikan situasi keselamatan dan keamanan pasca banjir. Polisi juga membantu masyarakat membersihkan rumah warga dari sisa lumpur dan material tanah yang terbawa arus seiring genangan air yang mulai surut secara bertahap.

Peringatan dini dari BMKG

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sultan Baabullah Ternate mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk wilayah Maluku Utara.

Berdasarkan update peringatan dini Maluku Utara yang dikeluarkan pada Rabu pukul 04.54 WIB, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan akan terjadi mulai pukul 05.25 WIB di beberapa wilayah, antara lain Kabupaten Halmahera Barat meliputi Jailolo, Sahu, Jailolo Selatan dan Ibu Selatan, serta Kota Ternate yang meliputi Pulau Ternate, Ternate Utara, dan Pulau Hiri.

Kondisi ini dapat menjalar ke wilayah Kabupaten Halmahera Barat seperti Loloda, Ibu, Tabaru, dan Sahu Timur, seperti di Kabupaten Halmahera Utara yang meliputi Malifut, Loloda Utara, Galela Barat, Galela Utara, Galela Selatan, Kepulauan Loloda, dan Kao Teluk Kabupaten Halmahera Timur seperti Wasile Selatan, Wasile Tengah, Wasile Utara, dan Maba Utara.

Menurut BMKG, kombinasi dinamika atmosfer menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi cuaca.

Siklon Tropis Jenna berada di perairan Samudera Hindia barat daya Banten dan diperkirakan meningkat menjadi kategori tiga dalam dua hari ke depan dengan kecepatan angin 25 knot dan masuk kategori dua sehingga membentuk kawasan berkecepatan angin rendah di wilayah yang dilaluinya.

Mengutip dari di antaraTim Meteorologi BMKG memastikan situasi tersebut memicu peningkatan kecepatan angin dan tinggi gelombang laut di perairan Indonesia hingga enam meter yang diperkirakan terjadi pada periode 7 – 10 Januari 2026.

Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari barat laut ke timur laut dengan kecepatan 6-25 knot, sedangkan di wilayah selatan bergerak dari barat daya ke barat laut dengan kecepatan kurang lebih sama.

Keadaan ini berpotensi menimbulkan gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di sejumlah perairan antara lain Perairan Morotai, Halmahera, Obi, Sanana, Taliabu, Kayoa, Kepulauan Loloda, Batang Dua, Ternate, Bacan, Teluk Weda, serta perairan Halmahera dan Kepulauan Gebe.

(antara/anak-anak)