Berita Wamendikdasmen Sebut Tragedi Anak SD di NTT Jadi Peringatan Serius

by
Berita Wamendikdasmen Sebut Tragedi Anak SD di NTT Jadi Peringatan Serius


Jakarta, Pahami.id

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wakil Menteri Pendidikan Dasar), Atip Latipulhayat mengemukakan kasus siswa kelas IV SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) bunuh diri sebagai kasus serius bagi semua pihak.

“Kementerian Pendidikan Dasar memandang kejadian ini sebagai kejadian yang sangat serius, dan mengingatkan kita bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan persoalan yang kompleks,” kata Atip dalam keterangannya, Rabu (4/2).

Atip menjelaskan, Kementerian Pendidikan Dasar melalui Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan NTT sedang berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk memberikan bantuan kepada keluarga termasuk memberikan dukungan kelanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya.


Selain itu, Atip mengatakan Kementerian Pendidikan Dasar juga melakukan koordinasi lintas sektor untuk memastikan keluarga memiliki akses terhadap layanan sosial dan pendidikan yang mereka butuhkan.

“Kejadian ini menjadi keprihatinan bersama dan kami menyampaikan empati kami kepada keluarga, teman, guru, dan seluruh warga sekolah yang terkena dampaknya,” ujarnya.

Atip mengatakan, almarhum tercatat sebagai penerima Program Indonesia Pintar (PIP) yang dananya disalurkan sesuai mekanisme yang digunakan.

Namun, kata dia, Kementerian Pendidikan Dasar menekankan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya anak dari keluarga rentan, tidak bisa berhenti pada dukungan finansial saja, melainkan harus mencakup bantuan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang mendukung.

“Satuan pendidikan bersama orang tua dan masyarakat berperan penting dalam membangun komunikasi terbuka dimana setiap anak merasa aman untuk mengungkapkan kelemahannya, memperkuat kepedulian terhadap keadaan emosi anak, dan memastikan setiap anak merasa didengarkan, dihargai dan mendapat bantuan yang memadai,” ujarnya.

Seorang siswa SD ditemukan tewas tergantung di dahan pohon cengkeh, Kamis (29/1) pekan lalu.

Lokasi kejadian tak jauh dari pondok ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.

Dalam pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibu korban.

Dalam foto yang terlihat, surat tersebut ditulis tangan dalam bahasa Ngada.

Dalam surat tersebut, korban meminta ibunya melepaskannya terlebih dahulu. Dalam surat itu juga tertulis agar ibunya melepaskannya – tidak perlu menangis, mencarinya, atau merindukannya.

Di akhir tulisan tangannya terdapat gambar menyerupai emoji dengan wajah menangis.

Dari pemeriksaan polisi, sebelum ditemukan tewas gantung diri, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku catatan dan pulpen.

Namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena ibunya tidak mempunyai cukup uang.

Ibu korban, MGT (47) mengaku, malam sebelum kejadian, korban sempat bermalam di rumahnya. Kemudian keesokan paginya, sekitar pukul 06.00, MGT meminta seorang tukang ojek untuk mengantarkan korban ke gubuk neneknya.

Ibu korban mengaku sudah memberikan nasehat terakhirnya agar anaknya tetap giat bersekolah.

Dari pemeriksaan polisi, ibu korban mengakui kondisi ekonomi keluarga cukup terbatas dan menghadapi berbagai kekurangan.

(mnf/tidak)