Jakarta, Pahami.id —
Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing pada Kamis (14/5) untuk membahas sejumlah isu sensitif mulai dari perang Iran, perang dagang, hingga Taiwan.
Pertemuan tersebut digelar di Great Hall of the People, sebuah gedung negara megah di Beijing yang akan menjadi tempat penyambutan resmi Trump oleh pemerintah China.
Kedua pemimpin juga dijadwalkan menghadiri jamuan makan malam kenegaraan sebelum Trump melanjutkan agendanya mengunjungi Kuil Surga, situs bersejarah peninggalan kekaisaran Tiongkok.
Menurut AFP, Trump tiba di Beijing pada Rabu (13/5) sore menggunakan Air Force One untuk kunjungan dua hari. Ia didampingi beberapa pejabat tinggi perusahaan besar AS, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO Tesla Elon Musk.
Kedatangan Trump disambut karpet merah dan barisan ratusan mahasiswa Tiongkok yang membawa bendera kecil AS dan Tiongkok serta meneriakkan selamat datang.
Pertemuan Trump dan Xi menjadi sorotan karena terjadi di tengah hubungan Washington dan Beijing yang masih diwarnai ketegangan, terutama setelah perang dagang kembali memanas dalam beberapa tahun terakhir.
Trump sebelumnya mengunjungi Tiongkok pada tahun 2017. Namun setelahnya, ia memberlakukan berbagai tarif dan pembatasan terhadap produk asal Tiongkok.
Ketegangan perdagangan kembali meningkat setelah Trump kembali ke Gedung Putih tahun lalu, sebelum kedua negara menyetujui gencatan senjata sementara pada Oktober 2025.
Trump mengatakan dia berharap memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Xi Jinping. Ia bahkan mengatakan ia berharap mendapat “pelukan erat” dari pemimpin Tiongkok tersebut.
Dalam lawatannya ke Beijing, Trump juga menyatakan akan mendorong China membuka akses lebih luas bagi perusahaan asal Negeri Paman Sam.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan Beijing menyambut baik kunjungan Trump dan siap memperluas kerja sama sekaligus mengelola perbedaan dengan Washington.
Selain isu perdagangan, perang Iran diperkirakan akan menjadi salah satu topik utama pembicaraan kedua pemimpin. Konflik di Timur Tengah sebelumnya menunda kunjungan Trump ke China sejak Maret lalu.
Trump mengatakan dia akan melakukan pembicaraan panjang dengan Xi mengenai Iran, terutama karena sebagian besar ekspor minyak Iran yang terkena dampak sanksi AS dijual ke Tiongkok.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berharap China dapat berperan lebih aktif dalam menekan Iran untuk mengurangi eskalasi di kawasan Teluk Persia.
Isu perang dagang juga diperkirakan akan kembali mendominasi pembahasan. Kedua negara sedang mempertimbangkan untuk memperpanjang gencatan tarif satu tahun yang sebelumnya disepakati pada Oktober 2025.
Hubungan AS-Tiongkok juga dibayangi isu Taiwan. Trump sebelumnya menyatakan akan membahas penjualan senjata AS ke Taiwan dengan Xi Jinping.
Pernyataan ini terlihat kontras dengan sikap tradisional Washington yang tidak berkonsultasi secara terbuka dengan Beijing terkait dukungan militernya terhadap Taiwan.
Selain Taiwan, kedua negara juga diperkirakan akan membahas pembatasan ekspor logam tanah jarang Tiongkok, persaingan kecerdasan buatan (AI), dan hubungan dagang kedua negara yang terus menghangat.
Baik Washington maupun Beijing disebut ingin membawa hasil positif dari pertemuan tersebut sekaligus menjaga stabilitas hubungan kedua negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut.
Trump juga disebut berharap bisa menjadwalkan kunjungan kembali Xi Jinping ke AS pada akhir tahun 2026 sebagai simbol peningkatan hubungan kedua pemimpin.
(del/mikrofon)
Menambahkan
sebagai pilihan
sumber di Google

