Jakarta, Pahami.id —
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan bersedia mempertimbangkan kemungkinan proposal Iran melakukan pengayaan nuklir dalam skala “simbolis”, selama tidak ada jalan bagi pembuatan bom nuklir.
Namun, sebagai imbalannya, Trump juga menerima berbagai opsi militer terhadap Iran, termasuk memecat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Hal itu diungkapkan seorang pejabat senior AS aksio. Dalam laporannya, aksio menjelaskan bahwa tawaran tersebut tampaknya untuk mencapai kesepakatan untuk membatasi kemampuan nuklir Iran dan mencegah pecahnya perang.
Pejabat AS tersebut mengatakan bahwa rintangan terhadap proposal nuklir Iran yang akan datang sangat tinggi, karena rencana tersebut harus mampu meyakinkan banyak pihak yang skeptis di pemerintahan Trump dan di kawasan.
“Presiden Trump bersedia menerima kesepakatan besar bahwa dia dapat mengambil tanggung jawab politik di dalam negeri. Jika Iran ingin mencegah serangan (AS), mereka harus memberikan tawaran yang tidak dapat kami tolak. Iran terus kehilangan peluang. Jika mereka bermain-main, kesabaran tidak akan bertahan lama,” kata pejabat senior AS itu.
Sementara itu, pada Jumat (20/2), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan usulan Iran akan diselesaikan dalam dua atau tiga hari ke depan, tenggat waktu yang menurut Trump telah ditetapkannya sebelum mengerahkan pasukan AS untuk menyerang Teheran.
Araghchi dalam wawancara dengan “Morning Joe” menyatakan bahwa AS sama sekali tidak meminta Iran untuk berhenti memperkaya uranium selama pembicaraan di Jenewa pada hari Selasa. Dia juga membantah bahwa Iran telah menawarkan untuk menghentikan sementara program pengayaan uraniumnya.
“Apa yang kita bicarakan sekarang adalah bagaimana memastikan program nuklir Iran, termasuk pengayaan, aman dan akan tetap aman selamanya,” kata Araghchi.
Araghchi mengatakan Iran bersedia mengambil “langkah-langkah membangun kepercayaan” sebagai imbalan atas pencabutan sanksi AS.
Skenario pelengseran Khamenei
Di tengah perundingan AS-Iran mengenai isu nuklir, Washington terus mengirimkan armada militer ke Timur Tengah.
Namun, beberapa penasihat terdekat Trump pun mengaku belum mengetahui keputusan apa yang akan diambil Trump, termasuk kapan serangan akan terjadi jika presiden memilih jalur operasi militer.
“Presiden belum memutuskan untuk menyerang. Saya tahu itu karena kita belum menyerang. Dia mungkin tidak akan menyerang. Dia bisa bangun besok dan berkata, ‘Itu dia, kita berhasil,'” kata seorang penasihat senior Trump.
Menurutnya, Pentagon juga telah menghadirkan berbagai opsi, salah satunya menyasar Khamenei dan putranya.
“Mereka punya skenario untuk setiap kemungkinan. Salah satunya termasuk menyingkirkan Ayatollah dan putranya serta para mullah,” kata sumber itu, merujuk pada Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan putranya, Mojtaba.
Mojtaba telah dicap oleh beberapa pihak sebagai penerus kuat rezim ulama Iran jika ayahnya, Khamenei, mundur.
“Tidak ada yang tahu apa yang akan dipilih presiden. Saya kira dia belum tahu,” imbuhnya.
Sumber kedua mengonfirmasi bahwa rencana untuk membunuh Khamenei dan putranya telah disampaikan kepada Trump beberapa minggu lalu.
Penasihat senior lainnya mengatakan “Trump tetap membuka semua opsinya” dan berpikir presiden bisa memutuskan untuk menyerang Iran kapan saja.
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menolak membenarkan atau menyangkal laporan tersebut aksio yang.
“Media boleh berspekulasi sebanyak yang mereka mau tentang pemikiran presiden, tapi hanya Presiden Trump yang tahu apa yang akan atau tidak akan dilakukannya,” jelasnya.
(rds)

