Jakarta, Pahami.id —
Somalia bereaksi keras setelah Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar berkunjung Somaliasebuah wilayah di Somalia yang menginginkan kemerdekaan dan baru-baru ini diakui oleh Tel Aviv sebagai sebuah negara.
Kementerian Luar Negeri Somalia menganggap kunjungan Saar ke Somaliland sebagai tindakan ilegal dan “invasi tidak sah” terhadap negara di Tanduk Afrika tersebut.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Somalia mengatakan pihaknya “mempunyai hak untuk mengambil semua tindakan diplomatik dan hukum yang diperlukan untuk menjaga kedaulatan, persatuan nasional, dan integritas wilayah”.
Sementara itu, Dewan Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika dalam pertemuan khusus pada Selasa juga “mengecam keras” pengakuan Israel dan menyerukan agar keputusan tersebut “segera dibatalkan”.
Liga Arab dalam pernyataannya menegaskan bahwa “segala bentuk kontak resmi atau semi-resmi” dengan pejabat Somaliland yang diperlakukan secara terpisah dari Somalia adalah “pelanggaran mencolok terhadap persatuan dan kedaulatan Somalia”.
Tindakan tersebut, tambah Liga Arab, berpotensi “merusak perdamaian dan keamanan regional serta memperburuk ketegangan politik di Somalia, Laut Merah, Teluk Aden, dan Tanduk Afrika”.
Pasca pengakuan Israel atas Somaliland, kelompok militan Islam Al-Shabaab bahkan memihak pemerintah Somalia yang menjadi musuhnya selama dua dekade terakhir.
Al-Shabaab mengatakan pihaknya akan melawan segala upaya Israel untuk menggunakan Somaliland sebagai basisnya.
Israel bulan lalu mengumumkan pengakuan resminya atas Somaliland, langkah pertama bagi negara yang memproklamirkan diri sebagai republik sejak mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia pada tahun 1991.
Somaliland memiliki posisi strategis di Teluk Aden serta memiliki mata uang, paspor, dan angkatan bersenjatanya sendiri. Namun, kawasan ini kesulitan mendapatkan pengakuan internasional, di tengah kekhawatiran bahwa hal itu akan membuat marah Somalia dan mendorong gerakan separatis lainnya di Afrika.
Pada hari Selasa, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar dan delegasinya disambut oleh pejabat tinggi pemerintah daerah di bandara. Dia mengatakan pengakuan Somaliland adalah “hal yang secara moral benar untuk dilakukan”.
Presiden Somaliland Abdirahman Abdullahi Mohamed juga memuji keputusan Israel, yang disebutnya “berani” dan mengatakan langkah tersebut akan membuka peluang ekonomi dan pembangunan.
“Hal ini mendorong adanya pembagian kepentingan strategis antara kedua negara,” ujarnya dalam konferensi pers bersama.
Para analis mengatakan kesepakatan dengan Somaliland bisa memberi Israel akses lebih besar ke Laut Merah, sehingga memungkinkan serangan terhadap pemberontak Houthi di Yaman.
Letak Somaliland yang berdekatan dengan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia menjadikannya mitra strategis beberapa negara asing.
Pengakuan Israel mendapat dukungan dari Amerika Serikat, namun dikritik oleh Mesir, Turki, enam negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC), dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang berbasis di Arab Saudi. Uni Eropa menekankan bahwa kedaulatan Somalia harus dihormati.
Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud menyebut keputusan Israel sebagai “ancaman” terhadap stabilitas di Tanduk Afrika yang sudah rapuh.
Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, Ia mengatakan Somaliland disebut telah menerima tiga syarat dari Israel: pemukiman kembali warga Palestina, pendirian pangkalan militer di Teluk Aden, dan bergabung dengan Perjanjian Abraham untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.
(rds)

