Jakarta, Pahami.id —
Presiden keenam Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan potensi terjadinya Perang Dunia Ketiga menyusul konflik geopolitik yang semakin meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
SBY mengaku khawatir dan khawatir dunia akan mengalami badai besar seperti perang.
“Sangat mungkin terjadi Perang Dunia Ketiga. Namun saya tetap yakin hal buruk itu bisa dicegah,” kata SBY dalam postingan di X, Senin (19/1).
Ia kemudian mengatakan, “Tetapi, hari demi hari, ruang dan waktu untuk mencegahnya semakin sempit.”
Beberapa penelitian melaporkan bahwa jika terjadi perang dunia dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tidak bisa dihindari. Jumlah korban tewas juga bisa mencapai lebih dari 5 miliar orang.
SBY kemudian membandingkan keadaan dunia sebelum Perang Dunia Pertama tahun 1914-1918 dan Perang Dunia Kedua tahun 1939-1945 dengan saat ini. Menurutnya, keduanya memiliki kesamaan.
Misalnya, munculnya pemimpin dari negara-negara kuat yang haus akan perang, aliansi negara-negara yang saling berhadapan, berkembangnya kekuatan militer secara besar-besaran termasuk penyiapan perekonomian dan mesin perangnya, serta kondisi geopolitik yang sangat panas.
Baru-baru ini dunia sedang bergejolak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan serangan ke Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro dan istrinya.
Di lain waktu, Trump berulang kali menegaskan ingin mencaplok Greenland dan membuka opsi melancarkan operasi militer.
Di Eropa, Rusia masih berperang dengan Ukraina. Sementara itu, di Timur Tengah, Israel terus melancarkan agresi terhadap Palestina meski telah gencatan senjata.
Sejumlah badan intelijen negara-negara Barat juga melihat China mungkin akan menyerang Taiwan dalam beberapa tahun ke depan.
SBY juga menyatakan, meski ada tanda-tanda jelas akan terjadi perang besar, namun kesadaran, kepedulian, dan tindakan nyata untuk mencegah perang tidak terjadi.
“Kenapa? Mungkin negara-negara di dunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak bisa menghentikannya,” ujarnya.
SBY berharap perang yang disertai penggunaan senjata nuklir tidak terjadi.
Namun hanya berharap saja, katanya, tidak cukup. Komunitas internasional harus bekerja sama untuk menyelamatkan dunia.
“Sesempit apapun hal itu, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita bicara dan mencoba,” imbuhnya.
SBY kemudian menyarankan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif dengan mengundang para pemimpin dunia berdiskusi di Majelis Umum PBB darurat.
Agenda pertemuan tersebut, lanjutnya, membahas langkah-langkah konkrit untuk mencegah potensi krisis dunia berskala besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia baru.
“Saya tahu, bisa dikatakan saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berdaya. Namun, sejarah tidak boleh mencatat PBB mengabaikan dan tidak berbuat apa-apa,” kata SBY.
Meski seruan para pemimpin dunia kemudian diabaikan, setidaknya, lanjutnya, ada kesadaran dan upaya masyarakat internasional untuk bertindak dan mencegahnya.
(isa/rds)

