Berita Saudi Bakal Gelar Pertemuan di Riyadh Atasi Konflik Yaman

by
Berita Saudi Bakal Gelar Pertemuan di Riyadh Atasi Konflik Yaman


Jakarta, Pahami.id

Arab Saudi akan mengadakan pertemuan di Riyadh untuk menengahi konflik tersebut Yaman selatan.

Kementerian Luar Negeri Saudi (Kemlu) pada Sabtu (3/1) menyatakan Negara Minyak tersebut siap menggelar konferensi komprehensif yang mengumpulkan seluruh suku Yaman selatan, sesuai permintaan Presiden Yaman Rashad Al Alimi.


“Arab Saudi menyambut baik permintaan Presiden Yaman dan menyerukan seluruh suku di selatan untuk berpartisipasi aktif dalam pertemuan tersebut guna mencari solusi yang adil terhadap permasalahan di Yaman selatan sesuai dengan keinginan masyarakat,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam postingannya di X, Sabtu (3/1).

Yaman Selatan memanas setelah pasukan Gubernur Hadramout Salem Al Khanbashi yang didukung Saudi menyerang wilayah tersebut pada Jumat (2/1).

Dewan Transisi Selatan (STC), sebuah kelompok separatis yang menguasai wilayah selatan Yaman, melaporkan tujuh orang tewas dan lebih dari 20 orang terluka dalam serangan itu.

Al Khanbashi mengatakan serangan itu dilakukan ‘secara damai dan sistematis’ dengan tujuan merebut kembali pangkalan militer dari STC.

Al Khanbashi mengambil alih komando tentara setelah pemerintah Yaman memberinya kekuatan militer untuk memulihkan keamanan dan ketertiban di Yaman selatan.

Konflik di Yaman selatan meletus setelah Saudi melancarkan serangan udara terhadap muatan kapal yang dibawa Uni Emirat Arab (UEA) ke pelabuhan Mukalla pada Selasa (30/12). Saudi menuduh kargo tersebut berisi senjata yang ditujukan ke UEA untuk STC.

Tak lama setelah serangan itu, Yaman mengumumkan keadaan darurat dan membatalkan perjanjian keamanan dengan UEA. Yaman dan Saudi kemudian bergabung untuk mendesak agar pasukan UEA meninggalkan Sanaa dalam waktu 24 jam.

Pasukan UEA telah berada di Yaman sejak tahun 2015 sebagai bagian dari koalisi pimpinan Arab Saudi. Koalisi ini terbentuk sebagai respons terhadap perang saudara di Yaman yang pecah pada tahun 2014.

Namun, UEA menarik sebagian besar pasukannya dari koalisi pada tahun 2019, meninggalkan sejumlah kecil personel di provinsi selatan yang dikelola pemerintah Yaman.

Awal bulan ini, pasukan STC menyerbu Yaman selatan dan merebut sebagian besar provinsi Hadramawt. Pihak berwenang Yaman menuduh UEA memerintahkan STC untuk ‘melemahkan dan memberontak terhadap otoritas negara melalui eskalasi militer’.

UEA membantah terlibat dalam tindakan STC.

(blq/asr)