Jakarta, Pahami.id —
Rusia mengusir seorang diplomat Bahasa inggris setelah menuduhnya sebagai mata-mata pada Kamis (15/1), menutupi eskalasi terbaru tuduhan spionase antara kedua negara.
Badan keamanan FSB Rusia mengatakan diplomat yang diusir, Gareth Samuel Davies, terdaftar dalam data resmi Moskow sebagai sekretaris kedua di Kedutaan Besar Inggris di Moskow.
Kementerian Luar Negeri Rusia menelepon kuasa usaha Inggris lalu menyampaikan “protes keras” karena Davies dicurigai sebagai anggota intelijen Inggris.
“Penghargaan individu tersebut telah dicabut. Dia diharuskan meninggalkan Federasi Rusia dalam waktu dua minggu,” kata kementerian itu seperti dikutip. AFP.
Hingga saat ini, Inggris belum mengomentari pengusiran diplomatnya.
Hubungan Moskow-London telah lama tegang dan hampir membeku bahkan sebelum invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.
Kedua negara telah beberapa kali memecat staf kedutaan masing-masing, dan tuduhan spionase telah menghantui hubungan mereka selama beberapa dekade.
Pada tahun 2006, pembelot Rusia Alexander Litvinenko meninggal di London setelah diracuni polonium. Penyelidik Inggris mengatakan hal itu dilakukan oleh badan intelijen Rusia, namun berulang kali dibantah oleh Moskow.
Selain itu, keracunan agen ganda Rusia Sergei Skripal di Salisbury pada tahun 2018 juga memicu pengusiran diplomat Rusia di Inggris ke beberapa negara Barat, yang terbesar dalam beberapa dekade.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina, komunikasi antara Downing Street dan Kremlin terputus. Pemimpin Inggris terakhir yang berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin adalah Boris Johnson pada Februari 2022, beberapa hari sebelum Moskow melancarkan invasi ke Ukraina.
Saat itu, ia memperingatkan bahwa pengiriman pasukan ke Ukraina “akan menjadi kesalahan perhitungan yang tragis.”
Sejak invasi Rusia ke Ukraina, Inggris telah menjadi salah satu pendukung utama Kyiv. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer telah bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky beberapa kali untuk membahas penghentian perang dan merupakan salah satu kritikus paling vokal terhadap Kremlin.
Bulan ini, Inggris dan Perancis menandatangani deklarasi niat mengenai pengerahan pasukan setelah gencatan senjata di Ukraina, namun ditolak oleh Rusia, dengan mengatakan bahwa pasukan tersebut akan menjadi “target militer yang sah.”
(rnp/rds)

