Jakarta, Pahami.id —
Indonesia kabarnya akan menjadi negara pertama yang mengerahkan pasukan untuk bergabung dengan Pasukan Stabilisasi Internasional (Tim Stabilisasi Internasional/ISF) ke Jalur Gaza, Palestina.
media Israel, KANbahkan menyebut pasukan Indonesia akan tiba di Gaza dalam beberapa minggu ke depan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Selasa (10/2) mengatakan Indonesia memang akan mengirimkan sekitar 8.000 tentara ke Jalur Gaza untuk bergabung dengan ISF. Meski begitu, Prasetyo belum memastikan kapan Indonesia akan mengirimkan pasukan ke Jalur Gaza.
“Belum, sedang dibahas. Tapi kemungkinan kita (kirim) sekitar 8.000. Total (tentara) 20 ribu,” kata Prasetyo di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (10/2), saat ditanya kapan pengerahan ini akan dilakukan.
ISF merupakan bagian dari upaya Dewan Perdamaian (BoP) yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyelesaikan konflik di Jalur Gaza.
Prasetyo mengatakan, saat ini Indonesia masih mempersiapkan skema penempatan militer termasuk komposisi anggota dari masing-masing negara yang terlibat. Menurutnya, ada sekitar 20 ribu anggota dari berbagai negara yang akan dikerahkan ke Gaza sebagai bagian dari ISF.
Terkait lokasi penempatan militer termasuk soal penugasan di kawasan Rafah, Prasetyo menegaskan, pemerintah belum menentukan titik penempatan pastinya. Belum ada rincian mengenai jadwal penempatan pasukan, mandat, dan mekanisme operasional Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi penjaga perdamaian ini.
Lalu, apa saja tugas ribuan prajurit Indonesia saat bertugas sebagai bagian ISF di Gaza?
ISF merupakan bagian dari Dewan Perdamaian yang disahkan oleh Dewan Keamanan PBB melalui resolusinya tahun lalu. ISF beranggotakan tentara dari berbagai negara, khususnya negara anggota BoP.
Nantinya, negara tersebut akan menyumbangkan personelnya ke ISF setelah “konsultasi dan kerja sama yang erat” dengan Mesir dan Israel, menurut situs resmi PBB.
Negara-negara yang sejauh ini mengindikasikan akan mengirimkan ISF antara lain Indonesia, Mesir, Qatar, dan Azerbaijan.
Secara teori, badan keamanan ini akan bekerja sama dengan Israel dan Mesir untuk “memiliterisasi” Jalur Gaza. ISF juga dilaporkan akan melatih pasukan polisi Palestina.
ISF disebut-sebut merupakan kekuatan multinasional yang dikerahkan ke Gaza untuk membantu melatih polisi, mengamankan perbatasan, menjaga keamanan dengan membantu menghancurkan Gaza, melindungi warga sipil dan operasi kemanusiaan, termasuk mengamankan koridor kemanusiaan.
Sementara itu, menurut laporan Al JazeeraIntinya, pasukan ini akan mengambil alih tanggung jawab keamanan yang telah ditangani Hamas selama 19 tahun terakhir.
Sejak tahun 2006, Hamas telah memimpin dan mengendalikan Jalur Gaza, termasuk mengelola layanan sosial dan keamanannya.
Sebaliknya, media Israel melaporkan KAN menjelaskan bahwa tentara Indonesia dan ISF diperingatkan untuk tidak berhadapan langsung dengan Hamas.
Pasukan ISF dilaporkan akan mengawasi penerapan garis gencatan senjata dan kemungkinan menangani masalah perbatasan lainnya.
Misalnya, pasukan Indonesia bisa dikerahkan untuk memantau garis perbatasan di Khan Younis dan Rafah di Gaza selatan.
(isa/rds)

