Jakarta, Pahami.id —
Diduga ada perwakilan militer dari Indonesia yang akan mengunjungi pusat komando tersebut Amerika Serikat di Kiryat Gat, Israel, minggu ini untuk mempersiapkan pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) di Semenanjung Gaza Palestina.
ISF merupakan bagian dari upaya Dewan Perdamaian (BoP) yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyelesaikan konflik di Jalur Gaza.
media Israel Berita Ynet mengklaim kunjungan perwakilan Indonesia tersebut untuk memulai persiapan penempatan ribuan tentara Indonesia “untuk menggantikan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di sepanjang Jalur Kuning di Gaza pada akhir tahun ini.”
mengikuti Berita Ynetperwakilan tersebut akan berdiskusi dengan IDF mengenai kewenangan dan tanggung jawab pasukan Indonesia, yang merupakan pasukan asing pertama di Gaza sejak tahun 1967, serta membahas prosedur koordinasi penembakan dan aturan keterlibatan di wilayah antara Negev barat dan Jalur Gaza.
Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Pertahanan (Karo Infohan) Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan RI (Settjen Kemhan) Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait membantah ada perwakilan TNI yang akan berkunjung ke Israel terkait hal tersebut.
Terkait pemberitaan tersebut, hingga saat ini belum ada rencana/agenda resmi perwakilan militer Indonesia untuk masuk ke Israel atau mengunjungi pangkalan militer AS di sana, kata Rico saat dikonfirmasi. CNNIndonesia.com melalui pesan singkat tentang laporan tersebut Berita Ynet kata, Rabu (11/2).
Rico mengatakan pada prinsipnya hal-hal terkait kunjungan, akses, dan pengaturan operasional hanya dapat dipertimbangkan jika terdapat kejelasan kerangka hukum dan pengaturan misi, termasuk SOFA/Status of Forces Agreement dan mekanisme resmi yang disepakati.
“Jadi untuk saat ini, informasi itu (laporan Berita Ynet) kami belum bisa memastikannya,” tambah Rico.
Dalam laporannya, Berita Ynet mengatakan tentara Indonesia kemudian akan dilatih dan dipersenjatai di Yordania atau Mesir. Ynetnews juga merinci, TNI tidak diperbolehkan beroperasi di wilayah Gaza yang dikuasai kelompok milisi Hamas.
“Misi mereka termasuk memastikan pembangunan awal Rafah dan menjaga lokasi pengumpulan dan penyimpanan senjata Hamas, jika organisasi tersebut setuju untuk menyerahkannya, sebagaimana dituangkan dalam perjanjian gencatan senjata,” kata laporan itu. Berita Ynet.
“Pada tahap ini, kedatangan pasukan asing tidak diwajibkan untuk beroperasi di terowongan di kedua sisi Garis Kuning,” tambahnya. Berita Ynet.
Sementara itu, Selasa (10/2), Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan Indonesia akan mengirimkan sekitar 8.000 tentara ke Jalur Gaza untuk bergabung dengan ISF. Sedangkan total pasukan ISF diperkirakan sekitar 20 ribu anggota yang berasal dari berbagai negara lain.
“Belum, sedang dibahas. Tapi kemungkinan kita (kirim) sekitar 8.000. Total (tentara) 20 ribu,” kata Prasetyo di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (10/2), saat ditanya kapan pengerahan ini akan dilakukan.
Prasetyo mengatakan, saat ini Indonesia masih mempersiapkan skema penempatan militer termasuk komposisi anggota dari masing-masing negara yang terlibat. Menurutnya, ada sekitar 20 ribu anggota dari berbagai negara yang akan dikerahkan ke Gaza sebagai bagian dari ISF.
Terkait lokasi penempatan militer termasuk soal penugasan di kawasan Rafah, Prasetyo menegaskan, pemerintah belum menentukan titik penempatan pastinya. Belum ada rincian mengenai jadwal penempatan pasukan, mandat, dan mekanisme operasional Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi penjaga perdamaian ini.
Panglima Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak pada kesempatan terpisah juga mengatakan, hingga saat ini rincian mengenai jumlah prajurit yang akan dikirim ke Gaza belum final.
Namun, pelatihan untuk calon tentara di Gaza telah dimulai, di mana mereka akan fokus pada peran medis dan teknik.
“Kami sudah mulai melatih orang-orang yang berpotensi menjadi pasukan penjaga perdamaian. Jadi kami siapkan unit teknik dan kesehatannya,” ujarnya.
(blq/rds/bac)

