Berita Penahanan Uighur Kembali Disorot usai Penangkapan Maduro

by
Berita Penahanan Uighur Kembali Disorot usai Penangkapan Maduro


Jakarta, Pahami.id

Berbagai negara mengecam tindakan tersebut Amerika Serikat yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro di awal bulan Januari.

Tiongkok melalui Kementerian Luar Negeri juga mengecam penangkapan Maduro dan menyebutnya sebagai pelanggaran hukum dan kedaulatan internasional.

Tak hanya itu, Beijing juga menyebut penculikan Maduro dari Venezuela ke AS sebagai “tindakan hegemonik yang melemahkan norma global.”


Sejumlah aktivis hak asasi manusia secara khusus menyoroti Tiongkok, yang juga mengkritik tindakan AS meskipun negara Tirai Bambu itu sendiri memiliki catatan hak asasi manusia yang buruk.

“Ketika Tiongkok mengeluarkan pernyataan tersebut, rasanya hal tersebut bukanlah sebuah penilaian moral, melainkan sebuah lelucon,” kata aktivis hak asasi manusia Shohret Hoshur.

Ia menganggap sikap ini ironis mengingat perlakuan Tiongkok terhadap warga Uighur di wilayah yang secara historis dikenal sebagai Turkestan Timur.

Hoshur mengaku merasa campur aduk melihat reaksi dunia atas penangkapan Maduro. Di satu sisi, ia merasa lega karena dunia masih menunjukkan kepedulian terhadap keadilan.

Namun sebaliknya, ia mengatakan keadilan itu selektif. “Rasa keadilan itu berhasil bagi sebagian orang, dalam kasus-kasus tertentu, namun gagal total bagi orang lain. Kalau kita bicara tentang keadilan, seringkali keadilan itu tidak terlihat,” katanya.

Penahanan warga Uighur

Dia kemudian membandingkan penangkapan seorang kepala negara dengan apa yang disebutnya sebagai “penyanderaan besar-besaran” terhadap warga Uighur. Menurut Hoshur, operasi penangkapan Maduro melibatkan personel terbatas dan berlangsung kurang dari tiga jam.

Di sisi lain, China disebut telah mengerahkan puluhan ribu petugas dan ratusan ribu kader pemerintah untuk menahan lebih dari tiga juta warga Uighur.

“Apakah penyanderaan seorang presiden lebih biadab dibandingkan penyanderaan seluruh negara?” Hoshur berkata dengan penuh tanya.

Hoshur juga menyoroti perbedaan proses hukumnya. Maduro, menurutnya, langsung menghadapi mekanisme peradilan, mengetahui alasan penahanannya, dan bisa bertemu keluarganya.

Sementara itu, warga Uighur yang dikirim ke kamp konsentrasi disebut tidak melalui prosedur hukum.

“Tidak ada surat perintah, tidak ada dakwaan, tidak ada persidangan. Banyak dari mereka tidak tahu kenapa ditangkap, selain karena mereka orang Uighur,” ujarnya.

Hoshur menambahkan, 11 anggota keluarganya sendiri hilang dalam sistem dan selama sembilan tahun terakhir dia tidak bisa menghubungi satupun dari mereka.

Fokus kemarahan global

Selain soal penahanan, Hoshur juga terkait soal sumber daya alam. Dia mencatat bahwa pemerintah AS secara terbuka mengakui ketertarikannya terhadap minyak Venezuela.

Sebaliknya, Tiongkok, katanya, diam-diam mengeksploitasi minyak, gas, dan sumber daya alam di Turkestan Timur, dan menyebutnya sebagai upaya “pembangunan ekonomi Xinjiang.”

“China tidak pernah menjelaskan ke mana keuntungannya,” katanya.

Hoshur menambahkan, informasi mengenai situasi di kamp Uyghur hanya muncul secara sepotong-sepotong.

Sejumlah intelektual dan pejabat senior, seperti mantan kepala pendidikan daerah Sattar Sawut dan rektor universitas Tashpolat Teyip, disebut-sebut telah dijatuhi hukuman mati atau penjara seumur hidup, sementara warga negara biasa seringkali dijatuhi hukuman lebih dari 15 tahun penjara.

“Setelah hampir satu dekade, pembebasan sangat jarang terjadi,” kata Hoshur.

Dalam menyimpulkan pandangannya, Hoshur tidak mengatakan bahwa penahanan Maduro sepenuhnya bisa dibenarkan. Namun dia mempertanyakan fokus kemarahan global.

“Jika kemarahan dunia hanya tertuju pada penangkapan presiden, sementara jutaan warga sipil bisa disandera secara diam-diam, maka masalahnya bukan pada kemunafikan politik saja,” kata Hoshur.

“Itulah pengosongan makna hukum internasional itu sendiri,” tutupnya.

(Dna)