Berita Ketua DPRD DKI Saran Solusi Bersama soal Polemik Kinerja RDF Rorotan

by
Berita Ketua DPRD DKI Saran Solusi Bersama soal Polemik Kinerja RDF Rorotan


Jakarta, Pahami.id

Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin meminta semua pihak mencari solusi bersama terkait pengoperasian Pabrik RDF Rorotan yang masih menjadi kendala warga sekitar lokasi.

“Ini persoalan kita bersama, saya harap kita duduk bersama memikirkan solusinya bersama,” kata Khoirudin di Jakarta, Senin (2/2) seperti dikutip dari di antara.

Dikatakannya, Pabrik RDF Rorotan dibangun dengan menggunakan dana yang cukup besar dan diharapkan dapat mengurangi permasalahan sampah di ibu kota Negara Republik Indonesia tersebut.


Menurutnya, permasalahan yang terjadi perlu dicarikan solusinya secara bersama-sama, karena sampah merupakan permasalahan yang berlarut-larut, apalagi setiap harinya bisa menghasilkan lebih dari 8 ribu ton.

“Untuk Rorotan tentunya semua yang kami berikan untuk masyarakat dan akan kami diskusikan kembali dengan masyarakat, karena dana yang kami keluarkan cukup besar,” ujarnya.

Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta meningkatkan teknologi pengendalian lingkungan sebagai komitmen pengelolaan lingkungan hidup di Pabrik RDF Rorotan dengan memasang beberapa alat.

Teknologi ini kami tingkatkan untuk meminimalisir potensi dampak terhadap lingkungan, khususnya terkait bau dan emisi udara, kata Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto di Jakarta, Minggu (1/2).

Menurutnya, RDF Plant Rorotan telah melakukan perbaikan pada sistem alat pengendali pencemaran udara (APCD) sebagai bagian dari komitmen pengelolaan lingkungan hidup yang bertanggung jawab.

Untuk itu, di RDF Rorotan telah dipasang empat unit alat penetral bau (deodorizer), meningkat dari tiga unit sebelumnya, yang berfungsi memblokir bau dari sumber proses sebelum berpotensi menyebar ke lingkungan sekitar.

Sejauh ini warga masih mengeluhkan pengoperasian Pabrik RDF Rorotan yang dinilai mencemari lingkungan, terutama terkait bau sampah dan menimbulkan ketidaknyamanan warga sekitar.’

Sementara itu, Anggota Komisi DPRD DKI Jakarta Ali Lubis menegaskan permasalahan bau menyengat sampah yang ditimbulkan dari operasi RDF Rorotan. Menurutnya, ini merupakan bukti RDF Rorotan yang dibanderol sekitar Rp. 1,3 triliun tidak direncanakan dengan matang.

Kalau ditanya apa yang saya lihat, yang saya lihat sebenarnya kecurigaan saya dari awal bahwa perencanaannya tidak menyeluruh, kata Ali di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (2/2).

Teman-teman, bayangkan anggarannya sekitar Rp 1,3 triliun. Dalam kurun waktu anggaran yang begitu besar, hingga saat ini masih ada permasalahan pengelolaan sampah yang dikatakan menggunakan teknologi modern. Itu pertanyaan umum, ”lanjutnya.

Menurutnya, dengan kisaran anggaran tersebut, seharusnya permasalahan lingkungan hidup dapat diselesaikan sejak awal.

Ia pun menegaskan keputusan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang menghentikan sementara kegiatan operasional RDF Rorotan, menyusul protes warga terkait bau menyengat yang terjadi.

“Kemarin Pak Gubernur mendapat pengaduan langsung dari masyarakat sampai menangis bahkan sempat berhenti sejenak, saya kira itu biasa saja. Betul, karena mereka langsung terkena baunya. Jadi saya kira itu saja. Saya melihat dan saya curiga perencanaannya kurang matang,” tuturnya.

Ia menambahkan, penyebab bau pada awal operasi disebabkan oleh asap pembakaran. Namun, diakuinya, informasi terakhir yang diterimanya adalah bau tersebut berasal dari air lindi.

Informasi awalnya baunya, tapi saya beli alat bernama pewangi untuk menghilangkan baunya. Nah, ternyata yang terakhir itu air lindi, air lindi itu tumpah dari sampah-sampah yang berserakan di jalan.

Ali menekankan pentingnya transparansi dokumen AMDAL RDF Rorotan kepada publik. Dikatakannya, jika pengelolaan RDF Rorotan tidak digunakan atau dilaksanakan sesuai rencana, berpotensi merugikan masyarakat.

“Karena anggarannya cukup besar, 1,3 triliun. Kalau tidak dimanfaatkan, tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya, sangat merugikan masyarakat,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan, Pabrik RDF Rorotan saat ini masih beroperasi secara terbatas yakni lima hari dalam seminggu dengan dua shift kerja. Sedangkan hari Sabtu dan Minggu digunakan khusus untuk membersihkan dan menata area operasi.

Oleh karena itu, pengoperasian RDF Rorotan tidak serta merta dilakukan dengan kapasitas maksimal 2.500 ton per hari. Kita mulai dari 200 ton per hari, kemudian ditingkatkan menjadi 400 ton, 600 ton, dan secara bertahap mencapai kapasitas 1.000 ton per hari sesuai instruksi resmi Gubernur, ”kata Asep yang menerima keterangan. CNNIndonesia.comSenin (2/2).

Asep menambahkan, pasokan sampah olahan berasal dari enam kecamatan di Jakarta Utara dan lima kecamatan di Jakarta Timur.

Dalam peningkatan kapasitas, kata Asep, pihaknya memastikan seluruh sistem pengendalian emisi dan bau bekerja maksimal dan memenuhi standar teknis. Selain proses pengolahannya, DLH menyoroti aspek pengangkutan sampah yang menjadi perhatian masyarakat.

Ia menegaskan, pengiriman sampah ke Pabrik RDF Rorotan hanya akan menggunakan truk pemadat tertutup yang diperoleh pada tahun 2024 dan 2025.

“Tidak ada lagi kendaraan terbuka yang masuk ke Pabrik RDF Rorotan. Truk pemadat tertutup ini dirancang untuk menghindari bau dan tumpahan lindi di sepanjang jalur pengangkutan,” tegas Asep.

Asep menambahkan, DLH DKI Jakarta juga mengoperasikan posko pemantauan di dua akses utama Jakarta Utara dan Jakarta Timur.

Kata dia, di posko tersebut petugas melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi kendaraan, termasuk memastikan bak mandi tertutup rapat dan tempat penampungan air lindi tidak bocor.

(nat/antara/anak)