
Jakarta, Pahami.id —
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menolak keras pemilihan kepala daerah (pilkada) tidak langsung melalui DPRD.
Parti Banteng menekankan pentingnya menjaga hak kedaulatan rakyat melalui pilkada langsung.
Rakernas I Partai menekankan pentingnya menjaga hak kedaulatan rakyat untuk menentukan pemimpinnya melalui pilkada langsung guna memperkuat legitimasi dan kepastian masa jabatan tetap selama lima tahun, kata Ketua DPD PDIP Aceh Jamaludin saat membacakan rekomendasi eksternal PDIP I 2026, dalam Rakernas I PDIP 2026, di Ancol/Jakarta, Senin.
Jamaludin mengatakan, PDIP juga mendorong terselenggaranya pilkada berbiaya rendah termasuk penerapan e-voting, penegakan hukum terhadap pelanggaran pemilu seperti politik uang.
Kemudian mencegah pembiayaan usulan calon (mas kawin politik), membatasi biaya kampanye, profesionalisme dan integritas penyelenggara pemilu.
Jamaludin mengatakan PDIP menekankan pentingnya reformasi sistem politik negara serta reformasi sistem hukum yang adil.
Reformasi sistem politik dilaksanakan dengan mendorong sistem multipartai sederhana dan menekankan bahwa peserta pemilu legislatif adalah partai politik untuk menciptakan sistem multipartai sederhana yang setara dengan penerapan sistem presidensial, ujarnya.
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, Pimpinan Umum PDIP Megawati Soekarnoputri akan menyampaikan sikap politiknya.
Sikap politik tersebut salah satunya terkait isu pemilihan kepala daerah melalui DPRD yang merupakan hasil kajian internal partai dalam Rakernas yang berlangsung dua hari di Ancol, Jakarta.
Selain persoalan pilkada tidak langsung, PDIP juga akan memaparkan posisi atau usulannya di beberapa bidang lain, seperti persoalan pemerintahan dan masyarakat, organisasi, kemenangan pemilu, hingga persoalan lingkungan hidup.
Ketujuh, rapat Komisi Lingkungan Hidup dan Mitigasi Bencana yang mengambil tindakan serius terhadap kerusakan ekologi, sejalan dengan arahan utama Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, kata Hasto.
PDIP menggelar perayaan HUT ke-53 sekaligus Rakernas pertama pada 10-12 Januari 2025. Dihadiri pengurus PDIP dari pusat hingga daerah, Rakernas tersebut mempertegas posisi PDIP sebagai partai penyeimbang di luar pemerintahan.
“Dalam Rakernas ini akan dibahas sikap-sikap politik termasuk tanggapan Partai terhadap berbagai persoalan geopolitik, krisis ekologi, korupsi, persoalan ekonomi, penegakan hukum, serta program internal Partai dan tanggung jawab kerakyatan Partai,” kata Hasto.
Sebanyak enam fraksi sangat mendukung usulan tersebut, yakni Fraksi Gerindra, Golkar, PKB, NasDem, PAN, dan Demokrat.
Partai Demokrat baru saja berbalik menolak sehingga kembali bergabung dengan koalisi partai politik yang ikut mendukung pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Sementara itu, meski didukung oleh UKM, namun masih setengah hati dengan catatan tertentu. PKS – yang juga tergabung dalam koalisi pemerintah – ingin pilkada melalui DPRD hanya berlaku di tingkat kabupaten.
Dengan demikian, dari delapan fraksi di DPR, otomatis hanya tersisa PDIP yang masih tegas menyatakan menolak usulan pilkada melalui DPRD. Sejauh ini PDIP menjadi satu-satunya partai pemegang kursi DPR yang berada di luar koalisi pemerintah.
Hasil survei terbaru LSI Denny JA pada Rabu (6/1) mengungkapkan, 66,1 persen responden menolak usulan pilkada melalui DPRD.
(fra/thr/fra)
