Jakarta, Pahami.id —
Sejumlah karyawan dilaporkan berjalan keluar di tengah pidato pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un yang didistribusikan di pabrik pada awal tahun.
Sumber di provinsi Hamgyong utara menceritakan NK Harian bahwa teks pidato Kim, yang diterbitkan di Rodong Sinmun, telah sampai ke pabrik dan perusahaan di pusat kota Hoeryong menjelang sesi pembacaan pagi pada tanggal 2 Januari.
Di sebuah pabrik, sejumlah pekerja memilih meninggalkan sesi pembacaan pidato Kim Jong Un yang disiarkan di pabrik melalui pengeras suara. Mereka mengaku khawatir dengan tuntutan pekerjaan dan pengorbanan tambahan.
“Alasan para pekerja tiba-tiba keluar setelah sesi pembacaan karena merasa terganggu dengan isi pidato tersebut. Kebanyakan pekerja berusaha keras untuk tetap tenang selama sesi tersebut, karena khawatir mereka akan diarahkan untuk berpartisipasi dalam lebih banyak proyek konstruksi atau meningkatkan produksi,” kata sumber tersebut seperti dikutip. NK Harian.
Sumber tersebut mengatakan bagian yang meresahkan karyawan tersebut berbunyi sebagai berikut.
“Kami memasuki tahun 2025 dengan berat hati menghadapi tugas yang sangat besar; apa yang kami yakini tidak lain adalah patriotisme dan kesetiaan rakyat kami, dan mereka adalah kekuatan pendorong nyata yang mendorong perjuangan kami yang belum pernah terjadi sebelumnya sepanjang tahun.”
Intinya adalah tuntutan untuk terus menunjukkan rasa cinta tanah air dan loyalitas. Masyarakat sudah tidak puas karena selalu terpanggil bekerja tanpa kompensasi atau imbalan apa pun.
Sementara itu, kekecewaan juga terlihat dari kampung halaman Kim.
“Hoeryong, sebagai tempat kelahiran Kim Jong Suk (istri Kim Il Sung dan ibu Kim Jong Il), dianggap sebagai tempat tinggal yang lebih baik dibandingkan kota dan distrik di sekitarnya.”
Fakta bahwa pidato tersebut mendapat reaksi seperti ini menunjukkan rasa frustasi dan kelelahan dengan proyek kerja wajib yang berulang-ulang, tambah sumber tersebut.
Reaksi negatif terhadap pidato tersebut di kota tersebut mencerminkan kelelahan dan frustrasi masyarakat terhadap proyek kerja wajib yang berulang-ulang.
Beberapa pekerja bahkan menyatakan ketidaknyamanan dan ketidaksetujuan atas pidato Kim yang mengingatkan mereka akan kesulitan yang dialami sepanjang tahun 2025.
Sinisme di lapangan kontras dengan pemberitaan media pemerintah Korea Utara yang menunjukkan dukungan besar dari semua lapisan masyarakat.
“Gunung dan sungai di seluruh negeri bergemuruh menyambut Tahun Baru,” kata salah satu laporan media.
Selain itu, surat kabar resmi Partai Pekerja Korea, Rodong Sinmun, mengklaim seluruh negara tampak bersemangat menyambut Tahun Baru.
“Hati masyarakat negeri ini kini dipenuhi keinginan untuk setia menerima kepemimpinan orang-orang yang paling mencintai rakyat dan mengagungkan kebesaran dan kebaikannya, serta keinginan membalasnya dengan lebih berani terlibat dalam perjuangan memajukan perkembangan sosialisme versi kita di segala bidang,” tulis Rodong Sinmun.
(rnp/bac)

