Jakarta, Pahami.id —
Negara di kawasan Balkan itu diguncang demonstrasi besar-besaran untuk menggulingkan presiden dengan menyerukan pemilihan presiden secepatnya.
Sebanyak sekitar 190 ribu orang turun ke jalan di Beograd, Serbiamenuntut agar pemilihan presiden segera diadakan untuk menggantikan pemerintahan Presiden Aleksandar Vucic.
Serbia sebenarnya akan menggelar pemilihan presiden pada 1 Mei 2027. Namun, para pengunjuk rasa menyerukan agar pemilihan presiden segera dimajukan untuk menggantikan pemerintahan saat ini.
Demonstrasi tersebut dipicu oleh runtuhnya kanopi stasiun kereta api di Kota Novi Sad pada November 2024. Peristiwa tersebut menewaskan 16 orang.
Masyarakat langsung marah, menuntut penyelidikan atas kejadian tersebut dan menilai pemerintah tidak kompeten dalam mengelola fasilitas umum.
Demonstrasi terbesar terjadi pada Maret 2025 yang melibatkan lebih dari 300 ribu demonstran yang memenuhi ibu kota Serbia, Beograd. Mereka meminta Presiden Vucic segera menggelar pemilihan presiden, seperti dikutip France24.
Demonstrasi massal kembali digelar tahun ini dengan tuntutan yang sama seperti tahun lalu.
Pihak oposisi telah lama menuntut penyelidikan atas tuduhan korupsi terkait runtuhnya kanopi stasiun kereta api pada November 2024 di kota utara Novi Sad.
Antara 180.000 dan 190.000 orang turun ke jalan untuk melakukan protes, menurut laporan Arhiv zabni skupova (AJS), sebuah kelompok jurnalis dan intelektual independen yang berspesialisasi dalam menghitung jumlah pengunjuk rasa.
Menurut badan pemantau, ini adalah protes terbesar kedua di Serbia sejak jatuhnya presiden otoriter Slobodan Milosevic pada tahun 2000.
Demonstrasi sebelumnya yang dilakukan oleh gerakan yang dipimpin mahasiswa pada tahun ini berhasil menarik 275.000 hingga 325.000 orang turun ke jalan.
Kapolri Serbia Dragan Vasiljevic menyebutkan jumlah peserta demonstrasi sekitar 34.300 orang, dikutip dari AFP.
Polisi dan AJS rutin memberikan angka yang berbeda jauh dengan laporan AJS.
Lebih dari 20 orang ditangkap menyusul kekerasan antara polisi dan pelempar batu bertopeng, yang dibalas dengan gas air mata, setelah demonstrasi hari Sabtu berakhir.
(membaca)
Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google

