Berita Menlu Sugiono Jawab Kritikan soal Prabowo Sering ke Luar Negeri

by
Berita Menlu Sugiono Jawab Kritikan soal Prabowo Sering ke Luar Negeri


Jakarta, Pahami.id

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono menanggapi kritik masyarakat terhadap Presiden Republik Indonesia Prabu Subianto yang terlalu sering berkunjung ke luar negeri.

Kritik tersebut juga disampaikan diplomat senior sekaligus mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal.

Sugiono mengatakan rangkaian kunjungan internasional yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto selama 1,5 tahun terakhir adalah untuk berinteraksi dengan dunia dan membawa pulang manfaat nyata bagi masyarakat NKRI.


Secara konstitusional tertulis Indonesia adalah bagian dari komunitas internasional, bagian dari komunitas dunia. Ini menuntut kehadirannya di dunia internasional, kata Sugiono usai menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Madagaskar Alice N’Diaye di kompleks Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta, Rabu, dikutip dari Antara. di antara.

Sugiono berpendapat, lawatan internasional tersebut merupakan upaya Indonesia untuk menarik seluruh negara menjadi sahabat baik, karena menurut Prabowo, “seribu teman terlalu sedikit dan satu musuh terlalu banyak”.

Dengan semangat menerapkan prinsip tersebut, lanjut Sugiono, Presiden Prabowo merasa Indonesia harus hadir di banyak tempat agar bisa berbaur dan bersahabat dengan seluruh mitra di tingkat internasional.

Sugiono menegaskan, seluruh kunjungan kenegaraan Presiden RI telah direncanakan dengan baik dan telah melalui tahap diskusi diplomatik yang komprehensif termasuk masukan dari Kementerian Luar Negeri RI.

“Indonesia merupakan negara yang ingin terlibat dalam upaya perdamaian dan ketertiban dunia, sehingga secara proaktif menawarkan diri untuk menjadi jembatan,” jelas Sugiono.

Sugiono pun menyambut baik kritikan Dino yang merupakan pendiri Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia (FPCI) sebagai masukan.

“Semua saran, semua kritik dalam perbaikan langkah itu baik, bagus, tentu harus konstruktif,” ujarnya.

Namun, dia mengingatkan, segala kritik dan masukan harus berdasarkan fakta dan data yang akurat. Terkait masukan untuk mengoptimalkan interaksi daring, Sugiono mengatakan pertemuan tatap muka dengan mitra internasional sebenarnya bisa lebih memperlancar dialog.

“Kalau kita bertemu langsung, kita bisa melihat bahasa tubuh dan ada keintiman personal. Dari situ kita bisa ngobrol lebih banyak lagi,” ujarnya.

Kritik dari Dino

Dino sebelumnya menilai pola perjalanan Prabowo ke luar negeri cukup menarik perhatian masyarakat. Oleh karena itu, ia menyampaikan beberapa saran, mulai dari pengurangan kunjungan hingga penggunaan diplomasi virtual.

“Presiden menganugerahkan kepada saya Bintang Mahaputera, artinya bapak mempercayai kredibilitas dan pandangan saya terhadap politik luar negeri. Oleh karena itu, saya juga merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk menjalankan amanah apa adanya,” kata Dino dalam video tersebut, Sabtu (30/5).

Dino mengimbau agar Prabowo mengurangi frekuensi kunjungan ke luar negeri secara signifikan dan tidak meremehkan suara masyarakat terkait hal tersebut.

“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo menjadi kepala negara yang paling banyak bepergian ke luar negeri. Sejak menjadi presiden, beliau menghabiskan satu dari enam hari di luar negeri dan tidak mengherankan jika ada yang menganggap hal tersebut tidak biasa dan melebihi batas normal,” tuturnya.

Diakui Dino, sulit membayangkan Prabowo terus melakukan perjalanan ke luar negeri dengan intensitas seperti sekarang hingga 18 bulan ke depan.

Ia juga menekankan besarnya biaya yang harus ditanggung negara dalam setiap kunjungan kepala negara ke luar negeri. Menurut dia, biaya tersebut meliputi tim pendahulu, pesawat, hotel, logistik, makanan, protokoler, keamanan, dan tunjangan harian delegasi.

“Satu kali perjalanan ke luar negeri bisa menghabiskan biaya puluhan, bahkan ratusan miliar,” ujarnya.

Dino menyarankan agar Prabowo lebih mengandalkan video call, telepon, atau pertemuan virtual untuk menjaga komunikasi dengan para pemimpin dunia.

(antara/belakang)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google