Berita Malam Minggu di Iran Ramai dengan Demo Anti Pemerintah

by
Berita Malam Minggu di Iran Ramai dengan Demo Anti Pemerintah


Jakarta, Pahami.id

Protes anti-pemerintah di Iran lebih banyak orang pada Sabtu (10/1) malam waktu setempat, bersamaan dengan ditutupnya internet dan ancaman kekerasan aparat pemerintah terhadap warga sipil.

Demonstrasi telah berlangsung selama dua minggu di Iran. Protes tersebut dipicu oleh tekanan ekonomi yang parah yang kemudian menyebar dan menjadi upaya untuk menggulingkan otoritas ulama di pemerintahan Iran.


Pada Sabtu malam (10/1) waktu setempat, masyarakat kembali berkumpul di utara Teheran, seperti terlihat dalam video yang beredar di internet dan dikonfirmasi AFP.

Mereka menyalakan kembang api dan memukul pot sambil meneriakkan dukungan terhadap monarki yang berakhir pada Revolusi Islam Iran tahun 1979.

Dalam video lain di media sosial yang tidak dapat dikonfirmasi oleh AFP, demonstrasi lain juga terjadi di seluruh Teheran. Di sana, pengunjuk rasa juga meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah.

Reza Pahlevi dari dinasti Pahlavi, pemimpin terakhir Kekaisaran Iran, juga mendorong masyarakat untuk melanjutkan protes yang lebih terarah pada Sabtu dan Minggu, 10-11 Januari 2026, setelah memuji aksi protes pada Jumat, 9 Januari 2026.

“Tujuan kami bukan lagi sekedar turun ke jalan. Tujuannya adalah siap merebut dan menguasai pusat kota,” kata Pahlavi melalui pesan video di media sosial.

AFP mengatakan pemerintah Iran telah menerapkan serangkaian strategi untuk mengatasi protes yang meletus sejak 28 Desember, termasuk memperkuat sikap mereka ketika protes meningkat.

Kelompok hak asasi manusia telah menyatakan kekhawatiran mereka bahwa pihak berwenang akan melakukan tindakan mematikan dengan kedok pemadaman internet yang telah berlangsung selama 48 jam.

“Ada laporan yang mengkhawatirkan bahwa pasukan keamanan telah meningkatkan penggunaan kekerasan yang melanggar hukum terhadap pengunjuk rasa,” kata Amnesty International.

Kelompok Hak Asasi Manusia Iran di Norwegia juga mengatakan bahwa setidaknya 51 orang telah tewas dalam tindakan keras pemerintah sejauh ini, dan memperingatkan bahwa jumlah korban tewas sebenarnya mungkin lebih tinggi.

Salah satunya adalah gambar yang mereka terbitkan. Gambar tersebut berisi sejumlah mayat yang ditembak mati saat protes di Teheran.

“Gambar-gambar ini memberikan bukti lebih lanjut mengenai penggunaan kekerasan yang berlebihan dan mematikan terhadap pengunjuk rasa,” kata IHR.

(afp/akhir)