Jakarta, Pahami.id —
Anggota Dewan Perwakilan Amerika Serikat Ilhan Umar tuduh Presiden Donald Trump pedofil dan memberi isyarat bahwa pemimpin tersebut akan dieksekusi jika dia berada di negara asalnya, Somalia.
Omar awalnya mengomentari rekaman Trump yang mengecam jaringan penipuan di Somalia. Dia menyebut klip itu sebagai pengalihan setelah nama Presiden AS muncul di file predator seksual Jeffrey Epstein.
Pemimpin Partai Perlindungan Pedofil mencoba mengalihkan perhatian karena namanya ada di semua arsip Epstein, kata Omar di X, Rabu (11/2).
Omar adalah seorang imigran yang menjadi politisi di AS. Ia lahir di Somalia dan masuk Islam. Saat ini, wanita tersebut adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Demokrat yang mewakili Minnesota.
Ia kemudian memuji langkah pemerintah Somalia yang mengambil tindakan tegas terhadap pelaku kekerasan seksual terhadap anak.
“Setidaknya di Somalia mereka membunuh para pedofil, bukan memilih mereka,” tambahnya.
Setelah seruan tersebut menjadi perbincangan publik, Partai Republik menanggapinya.
Anggota DPR dari Partai Republik James Comer sangat marah dengan Omar. Ia meminta Partai Demokrat kembali ke tanah air.
“Jika dia sangat mencintai Somalia, dia harus kembali ke Somalia. Dan saya dapat memberitahu Anda hal itu,” kata Comer seperti dikutip Minggu Berita.
Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis 3,5 dokumen Epstein pada awal Februari.
Dalam dokumen pencarian, “Donald Trump” disebutkan lebih dari 1.800 kali.
Dokumen-dokumen ini telah membuat banyak artikel berita mengutip Trump sebagai referensi. Apalagi hubungan politisi dengan Epstein di masa lalu.
Seperti orang-orang berpengaruh di New York pada 1990-an, Trump disebut-sebut merupakan rekanan Epstein yang berupaya menggaet selebriti untuk mendongkrak bisnisnya.
Salah satu dokumen melampirkan catatan FBI tentang seorang wanita yang menuduh Trump memperkosanya ketika dia berusia 13 tahun. Ada juga wawancara FBI dengan salah satu korban Epstein yang menyatakan bahwa kaki tangan Epstein, Ghislaine Maxwell, pernah “memperkenalkan” dia kepada Trump di sebuah pesta.
Saat ini, sulit untuk mengungkap keseluruhan isi jutaan dokumen karena besarnya skala produksi.
Selain itu, juga tidak ada bukti adanya tuduhan terhadap Trump dalam dokumen yang dianggap dapat diandalkan oleh FBI.
(rds/rds)

