Surabaya, Pahami.id —
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memutuskan untuk melanjutkan penerapannya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga akhir Januari 2026. Langkah ini diambil menyusul peringatan BMKG Juanda terkait potensi cuaca ekstrem dan puncak musim hujan yang akan segera terjadi.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto mengatakan, kebijakan perpanjangan OMC ini merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.
“Arah Pak Gubernur, kami melanjutkan langkah strategis menghadapi cuaca ekstrem berupa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang akan berlangsung hingga 31 Januari,” kata Gatot, Rabu (7/1).
Dijelaskannya, OMC yang digelar sejak 1 Januari 2026 ini telah melaksanakan tujuh sorti. Sasaran operasionalnya meliputi wilayah selatan Jawa Timur, selatan Pulau Madura, serta sejumlah titik di wilayah barat Jawa Timur.
Selain OMC, BPBD Jatim bersama pemerintah daerah/kota dan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Jatim juga melakukan berbagai upaya mitigasi.
Upaya tersebut, kata dia, meliputi normalisasi dan pembersihan sungai, penyediaan tenaga dan peralatan, serta pelatihan dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Berbagai upaya preventif dilakukan untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. Sepanjang tahun 2025, BPBD Jatim mencatat 531 kejadian bencana.
Mayoritas kejadian tersebut merupakan bencana hidrometeorologi, antara lain banjir 149 kali, angin kencang 147 kali, dan tanah longsor 21 kali.
“Secara umum bencana hidrometeorologi ini disebabkan oleh cuaca ekstrem yang terjadi di seluruh Jawa Timur,” ujarnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda sebelumnya memperkirakan kondisi cuaca ekstrem di wilayah Jawa Timur akan terus berlanjut hingga Februari 2026.
Namun BMKG mengungkapkan sebagian besar wilayah di Jawa Timur sudah memasuki puncak musim hujan pada Januari 2026. Curah hujan pada Januari diperkirakan mencapai sekitar 58 persen, sedangkan pada Februari berkisar 22 persen.
Prakiraan cuaca BMKG Juanda, Restina Wardhani pun mengimbau pemerintah daerah segera melakukan tindakan mitigasi untuk mengantisipasi potensi bencana dan cuaca ekstrem. Sementara itu, masyarakat diimbau untuk berhati-hati.
“Sebagian besar wilayah Jawa Timur sudah memasuki puncak musim hujan pada bulan Januari. Masyarakat diingatkan untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem terutama pada siang atau malam hari,” kata Restina Wardhani, Senin (5/1).
Restina mengatakan, situasi tersebut dipicu oleh aktifnya Monsun Asia dan gangguan gelombang atmosfer Frekuensi Rendah serta Julian Madden Oscillation (MJO) yang melintasi Jawa Timur.
Selain faktor global tersebut, suhu permukaan laut di perairan Selat Madura masih cukup signifikan dan kondisi atmosfer lokal yang belum stabil dapat mengakibatkan tumbuhnya awan konvektif dalam skala besar, ujarnya.
(Jumat/Senin)

