Jakarta, Pahami.id —
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah terang-terangan menyatakan keinginannya untuk melihat perubahan rezim di bawah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei ketika ketegangan antara kedua negara meningkat.
“Sepertinya hal terbaik yang bisa terjadi,” kata Trump kepada wartawan usai kunjungan ke Fort Bragg di North Carolina, seperti dikutip Agensi Anadolu.
Trump mengatakan, selama 47 tahun terakhir, banyak orang kehilangan nyawa di bawah pemerintahan teokratis ini.
“Selama 47 tahun, mereka terus berbicara dan berbicara. Kita kehilangan banyak nyawa saat mereka berbicara,” kata Trump.
Saat ditanya siapa yang paling cocok untuk ‘mengambil alih’ Iran, Trump enggan menjawab.
“Saya tidak ingin membicarakannya. [Tapi tentu saja] ada beberapa orang,” ujarnya.
Trump dalam kesempatan itu kemudian menyatakan bahwa ‘kekuatan luar biasa’ akan segera tiba di Timur Tengah. Yang dia maksud adalah armada kapal induk USS Gerald R. Ford yang telah dipesan ke Timur Tengah.
“Pasukan tambahan, seperti yang Anda tahu, serta kapal induk lainnya, akan segera tiba [di Timur Tengah]. Mari kita lihat apakah kita bisa menyelesaikan masalah ini sekarang, kata Trump.
AS dan Iran berselisih setelah Iran dilanda demonstrasi berdarah yang menewaskan ribuan orang. Iran menuduh AS memicu demonstrasi publik. Demonstrasi pada 28 Desember awalnya untuk memprotes krisis ekonomi.
Pada 13 Januari, Trump melontarkan komentar yang menyerukan warga Iran untuk terus berdemonstrasi dan menyita gedung-gedung pemerintah.
“Pejuang Iran, TERUS DEMONSTRASI. AMBIL ATAS LEMBAGA. BANTUAN SEGERA DIJALANKAN,” tulis Trump di Truth Social.
Ilustrasi. AS telah mengirimkan beberapa kapal induk ke wilayah Iran. (melalui REUTERS/Angkatan Laut AS) |
Komando Pusat AS (CENTCOM) pada 26 Januari lalu melaporkan bahwa kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, telah tiba di Timur Tengah. Sejak itu, AS memperkuat pasukannya di kawasan dan mulai mengepung Iran.
Awalnya, alasan AS adalah mengerahkan armada perang ke Iran untuk membantu para pengunjuk rasa. Namun, kini AS menggunakan perundingan nuklir sebagai alasan.
Trump mengancam akan menyerang Iran lebih keras dari sebelumnya jika Teheran tidak segera membuat kesepakatan. Pembicaraan AS-Iran mengenai program nuklir Teheran akhirnya dilanjutkan kembali pada 6 Februari, dan kini memasuki putaran kedua.
Iran telah menyatakan siap mengurangi pengayaan uranium jika AS mencabut semua sanksi terhadap mereka. Namun Iran menolak tuntutan AS lainnya, yakni menghentikan program rudal balistiknya dan dukungan Iran terhadap proksinya.
(blq/asr)

