Berita Israel Resmi Gabung Board of Peace Trump, Bagaimana dengan Palestina?

by
Berita Israel Resmi Gabung Board of Peace Trump, Bagaimana dengan Palestina?


Jakarta, Pahami.id

Sebuah organisasi yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim sebagai solusi konflik di Jalur Gaza, Palestina, Dewan Perdamaian (BoP) terus menjadi perhatian. Salah satunya karena dianggap tidak melibatkan Palestina atau Otoritas Palestina.

Trump mengumumkan pembentukan BoP atau Dewan Perdamaian pada Januari lalu setelah mendapat izin dari Dewan Keamanan PBB (DK PBB).


DK PBB mengeluarkan resolusi 2803 pada bulan November 2025. Salah satu item dalam resolusi tersebut mengizinkan Amerika Serikat untuk membentuk Dewan Perdamaian.

Namun, banyak ahli khawatir BoP melemahkan peran PBB. Selain itu, pengawasan eksekutif Trump terhadap organisasi-organisasi ini juga menyerupai struktur kolonial.

Tak hanya itu, dunia internasional pun ramai menyoroti absennya Palestina di organisasi tersebut. Sebab, selama ini Otoritas Palestina (PA) tidak terlibat dalam Dewan Perdamaian.

“Palestina harus terlibat,” tulis salah satu warganet di kolom komentar postingan Instagram CNNIndonesia.com

“Dewan Perdamaian akan menyelesaikan konflik di Gaza tetapi pihak Palestina tidak diikutsertakan,” cuit akun X pada akhir Januari lalu.

Lantas, benarkah Palestina tidak terlibat dalam Dewan Perdamaian Trump?

Menurut berbagai pemberitaan, 22 negara telah resmi bergabung dalam Dewan Perdamaian. Negara yang baru-baru ini ikut serta dalam inisiasi Trump adalah Israel.

“[Saya] telah menandatangani partisipasi Israel sebagai anggota Dewan Perdamaian,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di Washington pada hari Rabu.

Keanggotaan Israel di BoP menarik perhatian karena merekalah pihak yang melancarkan agresi di Gaza. Selain itu, Netanyahu juga bertekad menolak berdirinya negara Palestina.

Sebelum Israel, 21 negara telah menandatangani Piagam Dewan Perdamaian di luar Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada 22 Januari.

Puluhan negara tersebut antara lain Amerika Serikat, Argentina, Armenia, Azerbaijan, Bahrain, Bulgaria, El Salvador, Hongaria, Indonesia, Yordania, Kazakhstan, Kosovo, Mongolia, Maroko, Pakistan, Paraguay, Qatar, Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab, dan Uzbekistan.

Sementara itu, ada beberapa negara yang telah diundang dan menyatakan minatnya oleh Trump untuk bergabung namun belum menandatangani piagam BoP.

Negara-negara tersebut adalah Albania, Belarus, Kamboja, Mesir, Kuwait dan Vietnam.

Dari 22 negara yang resmi bergabung dalam BoP, baik Palestina maupun Otoritas Palestina tidak terdaftar sebagai anggota.

Meski demikian, Wakil Menteri Luar Negeri RI Arif Havas Oegroseno pernah menyinggung persoalan tersebut.

Tampaknya ada kesalahpahaman di masyarakat bahwa tidak ada Palestina. Di sana ada Palestina, katanya di sekitar Kompleks Parlemen DPR-MPR, Jakarta.

Havas kemudian berkata, “Telah disepakati bahwa beberapa perwakilan teknokrat Palestina akan menjadi bagian dari program ini.”

Teknokrat Palestina ini adalah anggota Komite Nasional Administrasi Gaza (NCAG) yang dibentuk oleh Trump.

Badan ini beroperasi di bagian bawah struktur BoP yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

NCAG terdiri dari 15 teknokrat Palestina dan diketuai oleh mantan wakil menteri di Otoritas Palestina (PA) Ali Shaath.

NCAG kemudian akan bertanggung jawab untuk memulihkan layanan penting seperti listrik, air, layanan kesehatan, pendidikan; mengatur kehidupan sehari-hari, dan mengawasi keselamatan publik di Gaza.

Pembentukan NCAG juga disebut-sebut bertujuan untuk menggantikan pemerintahan Hamas dengan pemerintahan teknokratis. Kemudian, ketika keadaan membaik, mereka akan mengalihkan pemerintahan ke Otoritas Palestina.

NCAG juga dilaporkan akan mengawasi proses perlucutan senjata, menegakkan satu undang-undang dan satu rantai komando, dan mengintegrasikan atau membubarkan semua kelompok bersenjata setelah melalui proses verifikasi yang ketat, katanya. Pos Yerusalem.

Namun keberadaan NCAG tidak disambut dengan gembira. Penasihat Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Mahmoud Al-Habbash, menyatakan pembentukan badan-badan tersebut bukanlah pilihan Palestina.

“Ini adalah perjanjian sementara, yang ditolak oleh kepemimpinan Palestina dalam keadaan apa pun. Namun ini adalah pilihan yang lebih baik di antara dua pilihan yang buruk,” kata Al Habbash seperti dikutip. Asyraq Al Awsat.

Al Habbash mengatakan Otoritas Palestina pada akhirnya menyetujui kesepakatan untuk menghentikan pembantaian Israel di Gaza dan peluang untuk mengarah pada pembentukan negara Palestina.

“Posisi kami yang jelas dan tegas adalah kami tidak menciptakan kenyataan ini,” kata Al Habbash.

Ia kemudian menegaskan, “Sebaliknya, ini adalah kenyataan yang dipaksakan kepada kita karena dua alasan: Pertama, agresi Israel dan kedua, petualangan Hamas yang sembrono, yang membangkitkan keinginan Israel untuk melenyapkan perjuangan Palestina.”

(isa/rds)