Dalam setiap krisis yang terjadi di berbagai negara, hal tersebut hampir pasti terjadi Amerika Serikat untuk campur tangan.
Baru-baru ini, AS melalui perintah Presiden Donald Trump menyerang Venezuela untuk menggulingkan rezim Presiden Nicolas Maduro.
Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap pasukan elite Delta Force di kediaman mereka di Kota Caracas beberapa saat setelah kota itu dibom pada Sabtu (3/1).
Begitu pula dalam kasus Israel menyerang Gaza, perang Rusia-Ukraina dan demonstrasi di Iran.
Sejak lama, Amerika selalu acuh tak acuh terhadap kepentingan negara lain. Bahkan ada yang bergelar “Polis Dunia” (Polisi Dunia).
Bukan tanpa alasan AS ingin ikut campur dalam berbagai kepentingan asing. Hal ini didasari oleh semangat melindungi kepentingan dan dominasi politik AS.
Semangat ini dimulai pada tahun 1823, ketika Presiden AS James Monroe memproklamasikan doktrin tersebut, yang pada dasarnya berjanji untuk melindungi republik-republik muda Amerika Latin dari monarki Eropa yang lama. Doktrin ini kemudian dikenal dengan nama “Doktrin Monroe”.
Halaman Council on Foreign Relations (cfr.org) menulis bahwa meskipun “Doktrin Monroe” saat ini tetap menjadi salah satu pernyataan utama kebijakan luar negeri AS, hanya sedikit orang yang melihatnya pada saat itu.
Tidak ada yang menyebutnya sebagai “doktrin” sampai tahun 1852, dan tidak ada presiden yang menggunakannya sampai Grover Cleveland (Presiden AS ke-22 dan ke-24) melakukannya pada tahun 1895.
Faktanya, dampak nyata dari Doktrin Monroe baru terasa ketika Presiden Theodore Roosevelt (presiden ke-26) mendefinisikan ulang Doktrin Monroe.
Konrad Wolfenstein, seorang penulis di situs Xpert Digital, mengulas doktrin ini. Ia mengatakan, di balik retorika luhur “kemerdekaan” dan rumusan “Amerika untuk Amerika” sejak awal, terdapat perhitungan yang jelas dan keras: memastikan dominasi ekonomi sendiri.
Doktrin Monroe awalnya dipandang sebagai benteng melawan Aliansi Suci di Eropa, yang kini telah berubah menjadi alat ofensif dalam proyeksi kekuatan geopolitik.
Jika diringkas, doktrin ini mempunyai pesan utama. Pertama, Amerika Serikat menyatakan penjajahan lebih lanjut di Amerika oleh negara-negara Eropa sebagai campur tangan yang tidak diinginkan.
Kedua, Amerika Serikat berjanji tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Eropa atau menyerang koloni-koloni Eropa di Amerika.
Ketiga, Amerika Serikat menekankan bahwa Belahan Bumi Barat merupakan wilayah yang terpisah.
Pada tahun 1845, di bawah Presiden James Polk, doktrin ini secara aktif digunakan untuk mencapai tujuan ekspansionis AS.
Polk menggunakan Doktrin Monroe untuk membenarkan aneksasi Texas dan Oregon dan menentang ambisi Inggris di California, yang pada saat itu masih menjadi bagian dari Meksiko.
Perang Meksiko-Amerika yang terjadi kemudian mengakibatkan perluasan wilayah AS secara signifikan, termasuk wilayah seperti New Mexico, California, Utah, Nevada, Arizona, dan sebagian Wyoming.
Setelah Perang Dunia II dan Perang Dingin, Doktrin Monroe menjadi semakin relevan dengan sedikit perubahan.
Uni Soviet yang hadir sebagai kekuatan di Belahan Bumi Timur dipandang sebagai ancaman terbesar bagi Belahan Barat. Pada saat yang sama doktrin ini berfungsi sebagai pembenaran bagi arsitektur keamanan yang komprehensif di Amerika Latin.
Di Amerika Latin, AS mendukung rezim militer selama rezim tersebut anti-komunis dan melindungi kepentingan Amerika.
Krisis Rudal Kuba tahun 1962 merupakan puncak dari kebijakan ini. Ketika Uni Soviet mengerahkan rudal nuklir ke Kuba, Amerika Serikat menggunakan Doktrin Monroe untuk melegitimasi sanksi dan ancaman kekuatan militer.
Presiden John F. Kennedy berpendapat bahwa penyebaran rudal nuklir Soviet di Belahan Barat merupakan ancaman yang tidak dapat diterima dan, sebagai kekuatan utama di benua itu, Amerika Serikat mempunyai hak dan kewajiban untuk mencegahnya.
Intervensi berjalan lebih jauh
Memasuki tahun 1970-an dan 1980-an, intervensi AS semakin jauh. Di Chile, AS mendukung kudeta militer tahun 1973. Di Nikaragua, AS berperang melawan pemerintah Sandinista, dan di El Salvador, AS mendukung pemerintah melawan pemberontak sayap kiri.
Di Timur Tengah, AS bersama Israel memberikan bantuan kepada pemberontak dan menggulingkan beberapa rezim. Di Iran menggulingkan PM Mosadegh, di Irak menggulingkan Saddam Hussein dan di Libya menggulingkan Gaddafi.
Di Asia, Amerika bergabung dengan anak perempuan di Indochina, Malaysia, termasuk Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Presiden Trump, Doktrin Monroe ditafsirkan sebagai kembalinya pemahaman unilateral dan proteksionis terhadap kebijakan luar negeri Amerika.
Trump telah menghidupkan kembali doktrin tersebut secara eksplisit dan menggunakannya sebagai kerangka kebijakannya terhadap dunia.
Dalam beberapa pidatonya, ia menekankan bahwa AS akan menegaskan kepentingannya di Belahan Barat dan tidak akan mentolerir campur tangan negara lain, terutama Tiongkok.
“Retorika ini bukan sekedar referensi sejarah namun bagian dari strategi komprehensif yang mendefinisikan kembali peran global AS,” kata Konrad.
Doktrin Monroe telah membentuk kebijakan luar negeri Amerika selama dua abad dan terus menjadi pembenaran atas tindakan sepihak dan intervensi militer.
Perkembangan sejarah menunjukkan bahwa Amerika Serikat paling sering menggunakan doktrin ini ketika kepentingan ekonominya tampak terancam. Itu sebabnya AS selalu hadir dalam berbagai gejolak di berbagai penjuru dunia.