Jakarta, Pahami.id —
Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyatakan Indonesia kini berada dalam pusaran air krisis tiga planet atau tiga krisis utama global yaitu krisis iklim, krisis polusi, dan krisis sampah.
Hal itu diungkapkannya pada Aksi Bersih-bersih Sungai dan kegiatan penanaman pohon di Kali Cikeas, Sentul, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, akhir pekan lalu, Minggu (15/2).
“Kami benar-benar berada dalam pusaran krisis tiga planet. “Ini bukan lagi isu global, ini sudah menjadi tantangan nyata yang kita hadapi sehari-hari,” kata Hanif.
Ia merujuk pada data UNFCCC yang mencatat suhu global pada tahun 2024 akan menjadi terpanas sepanjang sejarah, dengan peningkatan 1,4 derajat Celcius dibandingkan masa pra-industri.
“Kenaikan suhu sebesar 1,4 derajat berdampak besar bagi negara tropis seperti Indonesia. Hujan ekstrem, hidrometeorologi, banjir, dan kenaikan permukaan air laut menjadi pola baru, bukan lagi anomali,” ujarnya.
Hanif juga menyoroti kondisi sungai-sungai di Indonesia yang menurutnya masih belum sepenuhnya bebas dari pencemaran sampah.
“Selama saya memimpin, hampir tidak ada satu pun sungai kita yang benar-benar bersih dari sampah, baik itu plastik atau sampah lainnya. Ini pekerjaan besar kita bersama,” ujarnya.
Menurut dia, sebagian besar sampah laut berasal dari daratan dan sungai sehingga penanganannya harus dimulai dari hulu.
“Sampah di laut berawal dari sampah sungai. Dari darat jatuh ke sungai lalu ke laut dan memperburuk krisis iklim. Oleh karena itu kita harus bergerak ke hulu,” ujarnya.
Hanif menambahkan, pemerintah memperkuat kerja sama lintas sektor antara lain melalui Rencana Aksi Plastik Nasional dan sinergi dengan berbagai pihak internasional.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Perekonomian Majelis Ulama Indonesia (MUI Pusat) Hazuarli Halim menilai krisis lingkungan hidup tidak lepas dari tanggung jawab moral dan agama masyarakat.
“Terjadi kerusakan nyata di darat dan di laut akibat perbuatan manusia. Oleh karena itu, kita harus menjaga keseimbangan lingkungan hidup yang diciptakan Tuhan,” kata Hazuarli.
Tegasnya, membuang sampah sembarangan, terutama di sungai, danau, dan laut, sudah dinyatakan haram oleh MUI karena membahayakan nyawa dan kesehatan.
“Peduli lingkungan adalah tugas dan pahala, sedangkan pencemaran lingkungan adalah perbuatan melawan hukum dan dosa. Ini harus menjadi kesadaran bersama,” ujarnya.
Hazuarli menambahkan, pendekatan keagamaan diharapkan dapat memperkuat gerakan pengelolaan sampah tanah air, khususnya melalui literasi di masjid dan kegiatan dakwah sehingga terjadi perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan.
(antara/anak-anak)

