Makassar, Pahami.id —
Mantan Wali Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Moh Ramdhan Pomanto atau Danny Pomanto dengan tegas menyatakan penolakannya terhadap wacana pemilihan bupati (Pilkada) tidak langsung melalui DPRD.
Menurutnya, pemilu langsung merupakan hak fundamental rakyat yang tidak bisa dihilangkan dan terbukti menjadi proses pendidikan politik yang penting dalam demokrasi Indonesia.
“Kalau saya melihat instruksi partai [PDIP] jelas menolak hal ini. Mengapa? Sebab dari segi sejarah jelas telah terjadi koreksi sejarah melalui reformasi, yaitu mengembalikan hak pilih seluruh warga negara. Saya akan mengembalikannya. Anehnya sejarah dikoreksi lalu dikoreksi lagi hingga kembali lagi. Itu yang saya ambil dari instruksi partai, kata dia yang juga politikus PDIP CNNIndonesia.comJumat (1/9).
Danny yang kini menjabat Wakil Ketua Badan Legislatif dan Eksekutif Pemenangan DPD PDIP Sulawesi Selatan-kemudian menceritakan pengalamannya mengikuti kontestasi pilkada provinsi sebanyak lima kali.
Ia mengatakan, pengalaman tersebut menyadarkannya betapa pentingnya pilkada langsung di tingkat provinsi bagi pembentukan mentalitas demokrasi masyarakat dan calon.
“Saya adalah orang yang sudah lima kali menyelenggarakan pilkada. Betapapun sulitnya pilkada, ada yang penting di sana, yaitu proses penguatan mentalitas politik dan demokrasi. Tidak akan terasa kalau tidak mengalaminya secara langsung, ”ujarnya.
Tutup ruang keterlibatan publik dan muncullah tokoh-tokoh terpercaya
Danny yang pernah menjabat Wali Kota Makassar selama dua periode, meyakini jika pemilihan bupati dilakukan melalui DPRD maka ruang keterlibatan masyarakat akan tertutup. Selain itu, lanjutnya, membuka peluang terjadinya dominasi kepentingan politik tertentu.
“Pemilu tetap memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siapa pun untuk ikut bertarung tanpa harus terikat kuat pada suatu partai. Kalau melalui DPR, yang paling dominan adalah hubungan politik, bukan dukungan masyarakat. Hubungan pemimpin dan rakyat bisa putus,” tegasnya.
Danny juga mewanti-wanti potensi munculnya sosok ‘trust’ jika pemilu diserahkan sepenuhnya kepada DPRD. Sehingga masyarakat tidak akan mengetahui potensi masing-masing calon bupati.
“Belum tentu apa yang diusulkan hanya sekedar aspirasi, bisa saja masyarakat mempercayakannya untuk memenuhi kepentingan tertentu,” ujarnya.
Danny mengatakan, hak pilih merupakan ketentuan Tuhan dan tidak bisa dilanggar.
“Kenapa Tuhan menciptakan manusia berbeda dengan malaikat dan setan? Karena manusia diberi hak untuk memilih. Jangan sampai ada individu yang merampas hak tertinggi yang Tuhan berikan kepada manusia,” candanya.
Terkait sikap partai, Danny menegaskan, PDI Perjuangan tetap menolak wacana tersebut karena bertentangan dengan semangat reformasi dan sepenuhnya mengikuti sikap resmi partai.
“Iya kami tolak. Kami ikuti instruksi partai,” ujarnya.
Selain pernah terlibat dalam pemilihan kepala daerah yang mengantarkannya menjadi Wali Kota Makassar dua periode (2014-2025), Danny Pomanto juga pernah mengikuti pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur atau Pilgub.
Pertama pada Pilgub Gorontalo tahun 2011, ia menjadi calon wakil gubernur sebagai salah satu pasangan calon. Saat itu ia kalah dalam pemilihan Gubernur Gorontalo.
Selanjutnya pada Pilkada 2024, ia akan maju sebagai calon Gubernur Sulawesi Selatan. Pada Pilgub Sulsel 2024, ia kalah dari Andi Sudirman Sulaiman yang menjabat gubernur daerah tersebut.
(mir/anak)

