Berita DPR RI Sebut Aksi Trump Serang Venezuela Ancam Tatanan Dunia

by
Berita DPR RI Sebut Aksi Trump Serang Venezuela Ancam Tatanan Dunia


Jakarta, Pahami.id

Sejumlah anggota DPR ramai menyoroti langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerang ibu kota negara. VenezuelaCaracas dan menangkap presiden mereka, Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1).

Komisi I DPR yang membidangi pertahanan dan luar negeri menilai langkah AS tersebut melanggar kedaulatan negara dan mengancam ketertiban dunia. Menurutnya, operasi militer AS berpotensi membawa tatanan global ke era kekerasan dan bukan lagi hukum.


“Penangkapan kepala negara berdaulat dilakukan secara sepihak tanpa mekanisme hukum internasional yang sah, sehingga dunia sedang menuju era politik global yang berdasarkan kekerasan, bukan hukum,” kata Wakil Ketua Komisi I PKS, Sukamta, Senin (5/1).

Di sisi lain, Sukamta menilai langkah AS juga bisa menjadi preseden berbahaya yang bisa dinormalisasi oleh negara kuat lainnya.

Ia prihatin, karena dampaknya tidak hanya terhadap Amerika Latin, namun juga terhadap stabilitas global, khususnya bagi negara-negara berkembang dan Global South.

“Hari ini Venezuela, besok bisa jadi negara lain. Ini peringatan kuat bagi semua negara yang menjunjung prinsip non-intervensi dan solusi damai,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia harus konsisten dalam kebijakan luar negerinya yang independen dan aktif, dengan mengedepankan penyelesaian konflik melalui diplomasi dan multilateralisme. Indonesia tidak bisa tinggal diam terhadap praktik-praktik yang melemahkan kedaulatan nasional dan melemahkan norma-norma internasional pasca Perang Dunia II.

Oleh karena itu, menurutnya, PBB kini berada di persimpangan jalan, apakah tetap relevan dalam menjaga perdamaian dunia atau semakin terpinggirkan oleh tindakan unilateral negara-negara kuat.

“PBB berada di persimpangan jalan dalam melaksanakan reformasi untuk tetap relevan sebagai penjaga perdamaian dunia, atau semakin terpinggirkan oleh tindakan unilateral negara-negara kuat. PBB bukan hanya forum retoris, namun mampu menegakkan hukum internasional secara adil dan merata,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi I dari Fraksi Golkar, Dave Laksono meminta Kementerian Luar Negeri RI menjamin keselamatan seluruh warga negara Indonesia (WNI) di Caracas. Kementerian Luar Negeri, kata dia, perlu segera menyiapkan skenario pemulangan WNI jika konflik yang memburuk tidak kunjung membaik.

Kita tidak boleh lupa, tapi juga tidak boleh lupa. Kesiapan logistik, jalur evakuasi, dan komunikasi dengan masyarakat Indonesia harus disiapkan, sehingga jika situasi mendesak, pemerintah bisa bergerak cepat, kata Dave.

Sementara itu, Anggota Komisi XII Bidang Energi dan Lingkungan Hidup, Ratna Juwita Sari, mengingatkan pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi negara di tengah ketidakpastian global pasca konflik di Venezuela.

Terlepas dari dinamika dan kepentingan politik global, Indonesia, kata Ratna, tidak bisa mengabaikan dampak tidak langsung yang dapat meluas ke kawasan Asia.

“Krisis yang terjadi di Venezuela tentu berpotensi berdampak pada Asia, termasuk Indonesia. Apalagi motif utama konflik dan tekanan internasional terhadap Venezuela sejak lama tidak lepas dari persoalan minyak,” kata Ratna.

Menurutnya, kasus Venezuela menunjukkan bahwa energi bukan sekedar komoditas ekonomi, melainkan instrumen geopolitik yang dapat menentukan stabilitas suatu negara.

“Indonesia tidak bisa menunggu krisis datang sebelum mengambil tindakan. Kasus Venezuela harus menjadi peringatan dini bahwa ketahanan energi adalah landasan kedaulatan nasional,” ujarnya.

(membaca)