Berita China-India Kembali Bersitegang usai Konferensi Dalai Lama Keenam

by
Berita China-India Kembali Bersitegang usai Konferensi Dalai Lama Keenam


Jakarta, Pahami.id

Konferensi internasional yang membahas warisan budaya dan sejarah Dalai Lama Keenam, Tsangyang Gyatso, diadakan selama empat hari di Tawang, negara bagian Arunachal Pradesh, Indiapada bulan Desember 2025.

Kegiatan ini tidak hanya menyoroti tokoh agama yang berpengaruh dalam sejarah Buddha Tibet, tetapi juga memancing reaksi Tiongkok terkait status wilayah perbatasan.

Tsangyang Gyatso (1683-1706) dikenal sebagai Dalai Lama yang tidak konvensional. Ia lahir di Urgyeling, sebuah daerah yang sekarang berada di Distrik Tawang, Arunachal Pradesh.


Sejak kecil, menurut tradisi Buddha Tibet, ia diyakini memiliki kemampuan luar biasa, antara lain meninggalkan jejak kaki di batu dan muncul di beberapa tempat dalam waktu bersamaan.

Selain sebagai pemimpin spiritual, Tsangyang juga dikenang sebagai penyair yang dekat dengan masyarakat awam.

Konferensi bertajuk “Makna Budaya dan Sejarah Yang Mulia Dalai Lama Keenam, Gyalwa Tsangyang Gyatso” ini dihadiri oleh rinpoch, geshe, biksu dan akademisi dari India dan beberapa negara lainnya.

Gubernur Arunachal Pradesh Pema Khandu mengatakan Tawang kini menjadi pusat dialog global mengenai warisan Dalai Lama Keenam.

“Tawang saat ini menjadi pusat dialog global tentang warisan budaya, sejarah, dan spiritualnya,” tulis Khandu melalui akun X.

“Yang Mulia Dalai Lama Keenam terus menginspirasi umat manusia melalui ajaran, puisi, dan kasih sayang beliau.”

Warisan Dalai Lama Keenam

Khandu menambahkan, dunia lebih mengenal puisi Tsangyang Gyatso, namun belum sepenuhnya memahami kedalaman ajaran dan kebijaksanaannya.

“Dunia mengingat puisinya, tapi tidak semua ajaran dan hikmahnya. Sudah saatnya hal itu berubah,” ujarnya.

Puisi Tsangyang Gyatso masih dinyanyikan hingga saat ini oleh komunitas Tibet dan Mon di wilayah Himalaya Timur, sering kali dalam pertemuan malam.

Namun menurut peserta konferensi, warisan Dalai Lama Keenam lebih dari sekadar karya sastra dan mencerminkan upaya menyampaikan ajaran tentang kehidupan, kematian, samsara, dan nirwana dalam bahasa yang sederhana.

Reaksi datang dari Tiongkok setelah konferensi tersebut. South China Morning Post (SCMP) mengutip para pengamat di Beijing yang menilai acara tersebut sebagai ujian baru bagi hubungan Tiongkok-India.

Media yang berbasis di Hong Kong menyebut Tawang sebagai “kota pegunungan di wilayah yang dikelola oleh India sebagai bagian dari Arunachal Pradesh, namun diklaim oleh Tiongkok sebagai Zangnan atau Tibet Selatan.”

SCMP juga menulis bahwa wilayah tersebut “diserahkan ke India pada tahun 1914 oleh pemerintah Tibet di bawah Dalai Lama ke-13 melalui perjanjian dengan pemerintah kolonial Inggris.”

Jalur McMahon

Namun, beberapa sejarawan menyatakan bahwa perjanjian tersebut – yang dikenal dengan Garis McMahon – dihasilkan pada Konferensi Simla tahun 1913-1914, yang juga dihadiri oleh wakil Tiongkok saat itu, Che Ivan (Yifan), sebagai pemegang kekuasaan penuh.

Tiongkok sejauh ini menolak Jalur McMahon karena dianggap “ilegal” dan “tidak dapat diterima.” Wakil Dekan Institut Studi Internasional Universitas Fudan, Lin Minwang, mengatakan kepada SCMP bahwa isu suksesi Dalai Lama mungkin juga menjadi perhatian India.

“Di satu sisi, India berupaya memperkuat kendalinya di wilayah tersebut. Di sisi lain, India berupaya meletakkan landasan bagi era pasca-Dalai Lama,” kata Lin.

Namun peserta konferensi di Tawang menegaskan bahwa acara tersebut fokus pada kajian sejarah dan budaya.

Mereka juga mencatat tingginya partisipasi masyarakat Monpa setempat, baik tua maupun muda, yang memenuhi aula selama empat hari penuh. Bagi komunitas ini, Tawang—tempat kelahiran Dalai Lama Keenam—dipandang sebagai simbol kebebasan dan identitas spiritual.

Konferensi ini menegaskan kembali bahwa warisan Tsangyang Gyatso tidak hanya hidup dalam teks sejarah dan puisi, namun juga dalam dinamika politik dan identitas wilayah Himalaya hingga saat ini.

(Dna)