Jakarta, Pahami.id —
Aktivis Uyghur Abdurehim Gheni mengaku menjadi korban kekerasan saat menghadiri rangkaian acara Imlek di Balai Kota Den Haag, Belandapada 14 Februari 2026. Ia menyebut kejadian tersebut sebagai bentuk represi transnasional terhadap aktivis Uyghur di Eropa.
Dalam keterangannya, Gheni menyebut dirinya diserang saat memegang poster protes di dalam gedung Balaikota.
“Pada tanggal 14 Februari 2026, saya diserang secara brutal di Balai Kota Den Haag saat acara nasional Tahun Baru Imlek. Serangan ini adalah contoh nyata penindasan transnasional di tanah Eropa,” kata Gheni.
Dia mengatakan bahwa beberapa petugas keamanan Tiongkok tiba-tiba mengepungnya, menjatuhkannya ke lantai, dan kemudian mencekiknya.
“Mereka memaksa saya jatuh ke tanah dan mencekik saya hingga sulit bernapas,” katanya.
Menurut pengakuan Gheni, saat ditangkap, salah satu petugas juga membisikkan ancaman dalam bahasa Mandarin.
“Salah satu petugas berbisik kepada saya: ‘Kamu layak dimasukkan ke kamp konsentrasi. Kamu layak mati. Saya akan membunuhmu!’,” katanya.
Ia menilai penggunaan bahasa Mandarin dilakukan agar masyarakat sekitar, termasuk pejabat Belanda, tidak memahami ancaman tersebut.
Selain itu, Gheni mengatakan, kaki kanannya mengalami cedera parah saat kejadian tersebut. “Saya masih merasakan sakit yang parah dan kesulitan berjalan,” katanya.
Gheni mengatakan, pengalaman tersebut menimbulkan trauma yang mendalam, terutama karena ayahnya meninggal setelah ditahan di sebuah kamp di Tiongkok.
“Ayah saya disiksa sampai meninggal di sebuah kamp Tiongkok. Penyerang ini mengatakan saya pantas berada di sana juga. Tubuh saya terluka, namun semangat saya tetap tidak patah,” katanya.
Laporkan ke Otoritas Belanda
Usai kejadian, Gheni melaporkan kejadian tersebut ke Kepolisian Nasional Belanda. Dia mengatakan, laporan sudah diterima dan sedang dilakukan proses tindak lanjut.
“Saya sudah menghubungi Polri untuk melaporkan penyerangan ini. Mereka sudah menerima laporan saya secara resmi,” ujarnya.
Ia pun meminta rekaman kamera pengawas di Balai Kota Den Haag bisa dijadikan bukti.
Gheni akan meminta agar semua rekaman pengawasan internal digunakan sebagai bukti kunci untuk membawa penyerangnya ke pengadilan.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari otoritas China terkait klaim tersebut.
Den Haag dikenal sebagai kota yang menjadi pusat berbagai lembaga hukum internasional dan sering disebut sebagai “Kota Perdamaian dan Keadilan”.
Namun Gheni mempertanyakan keselamatan aktivis seperti dirinya.
“Jika kita tidak aman di ‘Kota Perdamaian dan Keadilan’, lalu di manakah kita aman?” dia menutup.
(Dna)

