Tanggerang, Pahami.id —
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang. mengatur status tanggap darurat bencana menyusul banjir yang meluas.
Kepala BPDB Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik menjelaskan, penetapan status tanggap darurat bencana tersebut dilakukan berdasarkan hasil asesmen penanganan dan pemantauan banjir yang meluas dan merendam 24 kecamatan.
Hal ini dilakukan berdasarkan potensi curah hujan tinggi yang dapat mengakibatkan banjir meluas, kata Taufik kepada wartawan, Rabu (14/1).
Taufik mengatakan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini adanya cuaca ekstrem yang diperkirakan akan kembali melanda Kabupaten Tangerang.
Jadi pemerintah harus mengantisipasi bagaimana hal itu dikaitkan dengan hasil prakiraan cuaca dari BMKG, kata Taufik.
Taufik mengatakan penanganan banjir akan dilakukan secara lebih komprehensif, terutama terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak dan penguatan koordinasi lintas sektor untuk meminimalisir risiko bencana.
Status tanggap darurat ini berlaku hingga penanganan bencana banjir selesai, ujarnya.
Menurut Taufik, ketinggian banjir di sejumlah wilayah terus meningkat akibat tingginya curah hujan dan meluapnya sejumlah sungai.
Banjir masih merendam sejumlah wilayah di 24 kabupaten dengan ketinggian berkisar antara 60 sentimeter hingga 2 meter. Ada juga 50.000 orang yang terkena dampaknya.
Jadi bukan perkembangan yang positif. Tapi perkembangan air justru lebih tinggi, lebih buruk, ujarnya.
Puluhan warga jatuh sakit
Puluhan warga Komplek Perumahan Taman Cikande, Kabupaten Tangerang, Banten, mulai menderita sakit akibat banjir yang tak kunjung surut selama tiga hari.
Pemantauan CNNIndonesia.comPosko kesehatan didirikan di masjid Komplek Perumahan Taman Cikande hari ini. Pos Pelayanan Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang menyediakan pemeriksaan kesehatan dan perbekalan obat-obatan.
Puluhan warga datang memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis yang diberikan petugas medis.
Seorang warga bernama Eka mengaku mengeluhkan sakit kepala, nyeri dan pegal serta kulit gatal sejak banjir merendam rumahnya.
“Mungkin karena capek, bawa barang di rumah sendirian, sudah tidak tahan lagi sakitnya,” kata Eka di posko kesehatan.
Sementara itu, petugas medis di Pos Kesehatan, Samsul Bahri mengatakan, posko tersebut telah didirikan sejak Rabu pagi. Hingga siang ini, sekitar 30 warga sudah mendatangi pusat layanan kesehatan tersebut.
Rata-rata warga mengeluh sakit kepala, batuk, pilek, dan gatal-gatal, kata Samsul.
Menurutnya, pelayanan puskesmas keliling merupakan langkah rutin yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang untuk menjaga kesehatan masyarakat saat terjadi bencana banjir.
Di sisi lain, sejumlah korban banjir di perumahan Taman Cikande mendirikan tenda pengungsian secara mandiri.
Puluhan warga mendirikan tenda pengungsian. Beberapa warga lainnya terlihat mengevakuasi diri dan barang-barang berharganya.
Banjir sudah berlangsung selama tiga hari, hingga saat ini kami belum menerima bantuan apa pun, kata Ketua RW 03 Perumahan Taman Cikande, Victor Silaen.
Victor mengatakan, banjir di wilayahnya terus meluas hingga berdampak pada 10 RT di 2 RW. Akibatnya, total 222 KK terdampak dan mulai meninggalkan rumahnya untuk direlokasi.
“Kami membangun tenda pengungsi secara mandiri dan bisa dijadikan dapur umum,” ujarnya.
Melihat situasi tersebut, Victor berharap adanya penyaluran bantuan yang memadai berupa sembako, obat-obatan, dan perahu evakuasi dari pemerintah setempat.
“Bantuan perahu karet untuk evakuasi belum ada, sejak kemarin kami menggunakan perahu bambu. Hingga saat ini masih menunggu kedatangan pemerintah,” ujarnya.
(fra/dod/fra)

