Daftar isi
Jakarta, Pahami.id —
Presiden Republik Indonesia Prabu Subianto berangkat dari Kabupaten Tapanuli Selatan menuju Kabupaten Aceh Tamiang pada Kamis (1/1) pagi, untuk meninjau perkembangan tempat tinggal korban. banjir Aceh.
CNNIndonesia.com telah merangkum beberapa hal yang dibahas dalam rapat terbatas (ratas) dengan sejumlah Menteri dan Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem sebagai berikut:
Daftar Isi
600 Unit Rumah Tinggal
Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan Roeslani mengatakan sebanyak 600 unit hunian tersebut akan diserahterimakan kepada pemerintah provinsi pada 8 Januari mendatang.
“Tanggal 8 Januari lalu sudah diserahkan ke pemkab sebanyak 600 unit. Dan tidak hanya perumahan Danantara saja, dengan itu kami juga menyerahkan taman bermain, jaringan Wi-Fi, surau, 14 unit dapur umum, serta 120 unit toilet dan kamar mandi,” kata Rosan kepada Prabowo.
Sementara itu, pihaknya menargetkan pembangunan rumah sementara (huntara) bagi korban sebanyak 15.000 unit akan selesai dalam waktu tiga bulan.
Rencananya dalam kurun waktu tiga bulan ini Insya Allah kita sudah bisa menyelesaikan 15 ribu rumah yang terbagi di tiga provinsi. Aceh kurang lebih 12 ribu unit, lalu Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah kurang lebih 2.000 unit, dan Sumbar 500 unit, ujarnya.
Satgas Kuala mengatasi sungai dangkal
Dalam pertemuan tersebut, ia sepakat membentuk Satuan Tugas (Satgas) Kuala untuk mengendalikan pendangkalan sungai dan muara sungai yang terjadi di beberapa wilayah bencana di Aceh dan wilayah Sumatera.
Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menjelaskan, pembentukan Satgas Kuala diputuskan setelah berkoordinasi dengan pimpinan TNI dan akan segera dilaksanakan.
Satgas ini terdiri dari dua formasi, yaitu mempelajari Kuala dan memanfaatkan perairan di kawasan Kuala, kata Sjafrie kepada Prabowo.
Sjafrie menjelaskan, kapal yang ditempatkan di Satgas Kuala tidak hanya digunakan untuk mengeruk sedimen, tetapi juga dilengkapi dengan sistem pengolahan air. Sjafrie juga menambahkan, Satgas Kuala dibentuk pada Kamis (1/1) dan ditargetkan beroperasi dalam waktu dua minggu.
Bencana nasional kembali disebutkan
Dalam kesempatan itu, Prabowo lebih lanjut menjelaskan mengapa banjir dan tanah longsor di tiga provinsi di Sumatera tidak disebut sebagai bencana nasional.
Prabowo sadar hingga saat ini masih ada pihak yang mendesak agar bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar ditetapkan sebagai bencana nasional.
“Jadi saudara-saudara, masih ada yang mempertanyakan kenapa tidak menjadi bencana nasional. Ya masalahnya kita punya 38 provinsi, masalah ini berdampak pada tiga provinsi, masih ada 35 provinsi lagi,” kata Prabowo.
“Jadi kalau sementara ini kita sebagai tiga daerah, sebagai satu negara, sebagai satu negara mampu menghadapinya, maka tidak perlu kita nyatakan sebagai bencana nasional,” imbuhnya.
Terima bantuan internasional
Presiden Prabowo menegaskan, pemerintah tidak menutup pintu bantuan dari pihak manapun dalam menangani bencana di Sumatera, termasuk dari luar negeri.
“Kalau ada pihak yang ikhlas mau membantu, apakah kita sebagai manusia jelas menolak bantuan? Asal bantuannya jelas,” kata Prabowo saat meninjau pembangunan rumah korban bencana di Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (1/1).
Prabowo mengatakan, pemerintah memandang penanganan bencana sebagai masalah serius dan telah menyiapkan anggaran besar untuk membantu para korban.
Tegasnya, pemerintah tidak menolak bantuan, namun prosedur dan mekanisme tetap harus dijaga agar penyalurannya berjalan tertib dan bertanggung jawab.
“Kami tidak menolak bantuan, tapi mekanisme dan prosedurnya harus jelas, dan harus ikhlas,” ujarnya.
Bupati Aceh Tamiang meminta 42 ribu rumah
Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi meminta pemerintah segera membangun 42 ribu rumah permanen (Huntap) bagi korban banjir dan longsor di wilayahnya.
Armia menjelaskan, wilayah Aceh Tamiang termasuk yang paling parah terkena dampak banjir dan tanah longsor. Kata dia, banyak rumah yang rusak parah bahkan hilang.
Oleh karena itu, ia meminta bantuan pemerintah pusat agar hunian tetap bagi masyarakat terdampak bisa segera dibangun.
“Dari data yang kami peroleh dari kepala desa, terdapat 37.888 rumah hilang dan 4.839 rumah rusak berat,” kata Armia.
Jadi kami minta izin presiden, kami membutuhkan 42.727 unit rumah permanen atau permanen, lanjutnya.
Prabowo mengklaim pihak swasta tertarik dengan lumpur banjir di Aceh
Lebih lanjut, Prabowo mengatakan ada minat dari pihak swasta untuk memanfaatkan lumpur akibat banjir dan lumpur sungai di beberapa wilayah bencana di Aceh.
Kepentingan ini sejalan dengan rencana pemerintah untuk melakukan normalisasi Kuala dan sungai pasca bencana.
“Gubernur [Aceh] mengabarkan kepada saya bahwa ada pihak swasta yang berminat. Dia bisa menggunakan lumpurnya dimana saja. Jadi tidak hanya di sungai saja, tapi juga di sawah dan sebagainya, kata Prabowo.
Menurutnya, pemanfaatan lumpur banjir digambarkan sebagai peluang yang dapat memberikan manfaat tambahan bagi daerah terdampak. Sementara itu, ia membuka ruang potensi tersebut untuk dikaji lebih lanjut dan diimplementasikan secara terukur.
“Tolong, menurut saya ini sangat bagus. Silakan dilihat dan dilaksanakan,” ujarnya.
(kacang/dal)

