Peneliti Ungkap Fakta Baru Soal Dampak Letusan Danau Toba

oleh
Peneliti Ungkap Fakta Baru Soal Dampak Letusan Danau Toba

Peneliti dari Jerman mengungkapkan bahwa dampak letusan vulkanik Gunung Toba terhadap kelangsungan hidup manusia di Bumi ternyata tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya.

Sekitar 74.000 tahun lalu, kaldera yang kini menjadi Danau Toba memuntahkan ribuan kilometer kubik magma dalam kurun waktu sekitar dua minggu. Volume material tersebut diperkirakan 1.000 kali lebih besar dibandingkan letusan Gunung Pinatubo pada tahun 1991.

“Orang-orang mengira letusan itu menyebabkan pendinginan besar-besaran di planet ini, sehingga mengancam kelangsungan hidup nenek moyang kita,” kata ahli geosains dari Johannes Gutenberg University Mainz, Jerman, Jinheum Park, dikutip dari d, Senin (10/8/2026).

Park bersama timnya meneliti jejak bencana itu melalui endapan lumpur di dasar Danau Chala, danau kawah kecil yang terletak di perbatasan Kenya dan Tanzania. Alih-alih mendapati bukti musim dingin vulkanik berkepanjangan, mereka justru menemukan bahwa dampak letusan Toba hanya berlangsung sekitar 18 bulan.

Letusan besar lazimnya melepaskan sulfur dioksida ke stratosfer dan berubah menjadi aerosol sulfat yang memantulkan sinar Matahari, sehingga memicu pendinginan global. Selama ini, estimasi jumlah sulfur dari Toba sangat bervariasi dan memicu skenario iklim yang berbeda-beda.

Untuk mengatasi ketidakpastian tersebut, para ilmuwan menggunakan Danau Chala sebagai arsip iklim beresolusi tinggi karena memiliki lapisan sedimen tahunan menyerupai cincin pohon. “Ini bekerja persis seperti cincin di batang pohon,” ucap Park.

Abu Toba di Danau Chala bahkan tidak kasat mata dan baru ditemukan melalui perhitungan pecahan kaca mikroskopis dari magma letusan. Tim menganalisis 450 tahun lapisan sedimen menggunakan citra mikroskop, pemindaian kimia, pembacaan isotop, serta perhitungan diatom setiap dua hingga tiga tahun.

Analisis menunjukkan diatom mengalami stres akibat langit yang meredup pasca-letusan. “Kami menduga lapisan hijau itu berasal dari diatom sebagai respons stres terhadap langit yang meredup. Karena mereka membutuhkan cahaya untuk tumbuh,” kata Park.

Musim kering pertama memicu ledakan populasi diatom akibat pendinginan permukaan danau, tetapi kondisi kembali normal pada tahun ketiga. “Lapisan terang yang terbentuk hampir dua tahun setelah letusan sangat khas untuk Danau Chala,” ujar Park.

Berdasarkan data tersebut, tim menyimpulkan dampak utama letusan Toba hanya berlangsung sekitar 18 bulan. Untuk mengukur tingkat pendinginan, ilmuwan menganalisis rasio silikon terhadap aluminium serta mangan terhadap besi dalam sedimen, yang menunjukkan angka pendinginan regional sekitar 0,5 derajat Celsius.

Temuan ini turut memperkirakan waktu letusan terjadi pada Januari atau Februari berdasarkan posisi abu dalam lapisan sedimen. Park menyatakan letusan tersebut memang memicu pendinginan dan pengeringan iklim, tetapi tidak sampai mengancam eksistensi manusia.

“Letusan itu memang mendinginkan dan mengeringkan wilayah tersebut, tetapi tidak sampai pada tingkat yang secara signifikan mengancam kelangsungan hidup manusia,” tuturnya.

Ia menambahkan, wilayah Afrika Timur saat itu telah mengalami tren alami menuju iklim yang lebih dingin dan kering. “Studi kami menunjukkan bahwa besarnya pendinginan dan pengeringan setelah Toba jauh lebih kecil dan masih berada dalam kisaran variasi alami selama siklus glasial dan interglasial. Manusia sudah pernah mengalami dan bertahan melewati kondisi itu,” jelas Park.

Kendati demikian, Park mengakui penelitian ini memiliki keterbatasan lantaran hanya mengandalkan satu danau. “Danau ini merekam sinyal iklim regional di Afrika Timur, tetapi tidak menunjukkan dampaknya terhadap seluruh dunia. Harus ada lebih banyak penelitian dengan pendekatan serupa di lokasi lain yang memiliki endapan abu Toba,” kata dia.

Tim berharap metode serupa bisa diterapkan untuk meneliti letusan supervulkan lain di dunia, seperti Los Chocoyos di Guatemala dan Oruanui di Selandia Baru.